BAGIAN I: BERDIRINYA ORDO JESUIT
BAB I: IGNATIUS LOYOLA
Pendiri Society of Jesus (Serikat Yesus), adalah seorang Spanyol Basque bernama Inigo Lopez de Recolde. Lahir di puri Loyola, propinsi Guipuzcoa, tahun 1491.
Dia adalah salah satu biarawan paling berbahaya yang pernah dilahirkan oleh sistem Katolik. Dari semua pendiri ordo yang ada, dia mungkin seseorang yang kepribadiannya meninggalkan kesan yang mendalam pada ingatan dan tingkah laku para murid dan penerusnya. Itulah salah satu ciri dari ordo Jesuit. Ada bantahan tetapi fakta banyak yang mendukung hal tersebut.
.Hasil karya seorang pelukis Jepang yang menggambarkan pendaratan bangsa Portugis, dan anak-anak Loyola, secara khusus di pulau-pulau di Jepang. Ia melukiskan bayangan-bayangan hitam dan panjang serta wajah-wajah mereka yang penuh duka tetapi membekukan dan menunjukkan arogansi penguasa yang fanatik.
Seperti halnya santo-santo yang lain, Inigo – kemudian merubah namanya menjadi berbau Roma yaitu Ignatius – memandang dirinya sebagai orang yang diutus untuk memberi pencerahan kepada orang-orang yang sejaman dengannya. Masa mudanya dipenuhi dengan banyak kesalahan dan kejahatan. Sebuah laporan polisi menuliskan bahwa dia seorang yang tidak dapat diajar, brutal, pendendam. Semua yang menulis biografinya mengakui bahwa ia suka akan kekerasan. “Seorang prajurit yang tidak dapat diatur dan angkuh,” komentar salah seorang teman karibnya “kehidupannya hanya seputar wanita, judi dan perkelahian.”
Seperti kebanyakan para pahlawan Gereja Katolik Roma, hukuman fisik yang kejam diperlukan untuk mengubah kepribadiannya. Dulu dia adalah pesuruh seorang bendahara Castille, hingga suatu saat bendahara tersebut dipecat karena melakukan perbuatan aib. Kemudian menjadi sukarelawan perang untuk Viceroy of Navarre; yang karenanya dia dapat hidup seperti layaknya seorang anggota istana kerajaan. Anak muda ini kemudian memulai kehidupan sebagai seorang intel yang membela Pampeluna yang berperang melawan Perancis yang dipimpin oleh Cant de Foix. Cedera yang didapatnya selama penyamaran tersebut mengubah hidupnya dimasa depan.
Salah satu kakinya terluka oleh peluru, lalu dia dibawa oleh seorang Perancis kepada saudara lelakinya Martin Garcia, di kastil Loyola. Dia menjalani operasi tanpa dibius, yang mana dia harus menjalaninya dua kali karena yang pertama tidak sempurna. Kakinya patah lagi dan diset ulang, walaupun begitu Ignatius tetap timpang. Hiburan satu-satunya, selama terbaring karena luka dan kesakitan, adalah buku “Life of Christ (Kehidupan Kristus) dan Life of Saints (Kehidupan Para Santo), buku-buku yang hanya terdapat dalam kastil tersebut.
Walaupun ia tidak berpendidikan dan masih dipengaruhi oleh shok yang parah, penderitaan Kristus dan kesahidan para santo tersebut memberikan dampak yang tidak terhapuskan; obsesi ini menggiring prajurit timpang tersebut ke jalan kerasulan. Obsesi dan mimpinya, yang timbul karena membaca kedua buku tersebut, begitu menguasai dirinya dan tampak dalam tindakannya yang sedikit gila.
Seorang penulis menulis hal berikut:
"Saya hendak menjelaskan hasil nyata praktek ilmu kebatinan yang dilakukan oleh orang-orang berintelejensia tinggi. Seseorang dengan pikiran lemah yang melakukan ilmu kebatinan berada pada posisi yang berbahaya, tetapi ilmu kebatinan yang dilakukan oleh orang yang berintelejensia tinggi menghasilkan bahaya yang lebih besar lagi, karena hasil karyanya yang lebih luas dan mendalam….Pada saat mitos mengambil alih kenyataan dalam intelejensia yang aktif, mitos itu menjadi fanatisme belaka; sebuah infeksi terhadap kehendak seseorang karena pembesaran yang tidak penuh atau terdistorsi”.Ignatius Loyola, seorang yang berintelejensia tinggi, adalah salah satu contoh sempurna dari “active mysticism” (ilmu kebatinan yang aktif) dan “distortion of the will” (penyimpangan terhadap kehendak pribadi). Meskipun begitu, perubahan dari seorang pahlawan biasa menjadi seorang jenderal dari sebuah ordo yang paling militan dalam Gereja Roma berlangsung dengan lambat; banyak langkah-langkahnya yang goyah sebelum dia menemukan panggilannya yang sesungguhnya. Pada musim semi tahun 1522, ia meninggalkan kastil Loyola, dengan keputusan yang mantap untuk menjadi seorang santo.
Lagipula, bukankah Bunda Maria menampakkan diri dihadapannya disuatu malam, sambil menggendong bayi Yesus?Setelah mengaku dosa di biara Montserrat, dia berencana pergi ke Yerusalem. Wabah penyakit menyebar luas di Barcelona dan, karena semua lalu lintas laut dihentikan, dia harus tinggal di Manresa selama hampir setahun, Disana dia menghabiskan waktunya dengan berdoa, berdoa, puasa-puasa panjang, mendera diri sendiri, mempraktekkan semua bentuk “maceration” (tindakan untuk melaparkan diri) dan tidak pernah absen dari ruang penebusan dosa. Semua ini dengan jelas menggambarkan keadaan mental dan syaraf pria tersebut. Dia mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk mewujudkan penglihatan-penglihatannya yang kaya dan beranekaragam yang mana menghantui pikirannya terus menerus.
“Semuanya ini karena sebuah penglihatan”, kata H. Boehmer, ”bahwa dia mulai mengkonsumsi daging lagi; ini adalah rentetan penglihatannya yang menyingkapkan misteri-misteri dogma Katolik dan menolongnya menjalani penglihatan tersebut: dengan cara demikian, pada saat dia merenungkan ketrinitasan diiringi suatu bentuk instrumen musik yang mempunyai akord tiga; misteri penciptaan bumi melalui “suatu” yang tidak jelas/kabur dan sinar yang memancar keluar dari pendaran sinar matahari; keajaiban akan turunnya Kristus menjadi ekaristi seperti kilatan cahaya yang memasuki air yang pekat, pada waktu seorang pastor mengangkatnya sambil berdoa; kemanusian Kristus dan Perawan Suci dalam bentuk tubuh yang berkilau mengagumkan; dan akhirnya setan sebagai sebuah bentuk yang menyerupai ular dan berkilau-kilauan serupa dengan mata yang berkilauan dan misterius. Bukankah ini merupakan awal dari pembentukan citra Jesuit yang terkenal itu?”
Mr. Boehmer menambahkan bahwa pengertian yang mendalam mengenai dogma-dogma dalam Katolik diungkapkan kepadanya, sebagai tanda istimewa dari yang diatas, melalui intuisi-intuisi yang sukar dipahami. “Banyak misteri iman dan ilmu pengetahuan menjadi jelas baginya dan kemudian dia pura-pura sudah mempelajari lebih banyak lagi dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu yang diperlukan baginya untuk belajar; tetapi dia tidak pernah bisa menjelaskan misteri-misteri apa yang tiba-tiba menjadi jelas baginya. Yang tertinggal hanya sebuah ingatan yang samar-samar, sebuah perasaan tentang sesuatu yang ajaib, seakan-akan pada waktu itu dia telah menjadi “seorang manusia yang berbeda dengan intelejensia yang berbeda.”
Semuanya ini mungkin akibat dari gangguan syaraf dan dapat disamakan dengan apa yang terjadi terhadap pengguna opium dan hasish: bahwa meningginya ego; ilusi yang membubung tinggi melampaui apa yang nyata, sensasi sesaat hanya meninggalkan ingatan yang membingungkan.
Penglihatan-penglihatan yang membahagiakan dan penerangan-penerangan mengiringi hal-hal mistik selama hidupnya.
“Dia tidak pernah meragukan realitas dari wahyu-wahyu tersebut. Dia berbicara kepada Roh Kudus seperti berbicara kepada orang lain; dia memohon persetujuan Tuhan, yang Trinitas dan Bunda Maria atas semua proyek-proyeknya dan akan menangis bahagia kalau ketiga pribadi tersebut menampakkan diri dihadapannya. Pada saat-saat seperti itu, dia dapat merasakan lebih dulu damai sejahtera dari sorga; sorga terbuka untuknya, dan Tuhan yang Trinitas terlihat jelas baginya."
Bukankah ini suatu kasus yang sempurna mengenai seseorang yang berhalusinasi ? Tuhan yang Trinitas yang jelas dan dapat dilihat inilah yang ditawarkan kepada dunia oleh anak-anak rohani Loyola, tidak hanya untuk alasan-alasan politik, ketergantungan dan pujian terhadap kecenderungan yang mengakar pada hati manusia yang suka akan berhala, tetapi juga keyakinan, indotrinasi yang mendalam dan benar. Dari awal, kepercayaan kuno sudah diterapkan dalam Serikat Yesus. Serikat Yesus ini merupakan peniru ulung, terlepas dari aspek-aspek didalamnya yang membuatnya menjadi sebuah ordo yang mendunia, intelek dan terdidik. Aksioma dasar Serikat Yesus adalah “segala sesuatunya untuk seluruh umat manusia”. Seni, kesusastraan, ilmu pengetahuan dan bahkan filosofi hanyalah alat atau jaring untuk menangkap jiwa-jiwa. Toleransi tidak ada dalam kamus mereka. Bagi ordo ini, kelemahan manusia selalu dapat diperbaiki, mendorong roh dan keinginan untuk menyerah dan kembali menjadi ketaatan yang kekanak-kanakan dan tidak semarak. Jadi mereka berkarya untuk mendirikan “Kerajaan Tuhan” yang didasarkan kepada idealisme mereka.
“Perpaduan dari kesalehan dan diplomasi, pertapaan dan kata-kata bijak, ilmu kebatinan dan kalkulasi akurat; seperti halnya karakter Loyola, seperti itulah karakter ordo ini”. Seseorang benar-benar bisa menjadi seorang anak rohani Loyola setelah melalui berbagai ujian yang keras dan pelatihan yang sistematis selama tidak kurang dari empat belas tahun.Dengan demikian, paradok ordo ini telah berlangsung selama 400 tahun, sebuah ordo yang berusaha keras menjadi “intelek” tetapi, secara simultan, selalu, dalam Gereja dan masyarakat Roma, merupakan pemenang atas watak yang paling keras.
BAB II: PENGHIKMATAN ROHANI
Akhirnya saatnya tiba bagi Loyola meninggalkan Monresa, dia tidak dapat meramalkan tujuannya, tetapi keingintahuan mengenai keselamatannya bukan lagi menjadi prioritas utama; sekarang ia menjadi misionaris , dan tidak hanya seorang peziarah biasa, ia menuju Yerusalem pada Maret 1523. Ia tiba pada 1 September, setelah melewati berbagai petualangan, sesaat kemudian ia meninggalkan Yerusalem, atas perintah orang-orang Fransiskan yang tidak antusias mengikuti perkembangan perdamaian yang tidak pasti diantara orang-orang Kristen Turki karena adanya praktek pemaksaan untuk pindah agama.
Misionaris yang kecewa itu berjalan melalui Venice, Genoa dan Barcelona untuk menuju ke Universitas Alcala dimana dia memulai pelajaran teologianya. Disana juga pengajarannya mengenai “penyembuhan Jiwa” diantara sukarelawan dimulai.
April 1527, Dewan Inkuisisi (the Inquisition ) menjebloskan Loyola ke penjara karena pengajarannya tersebut. Kemudian ia dibebaskan dan dilarang mengadakan pertemuan-pertemuan, ia pergi ke Salamonque dan melakukan hal yang sama. Kecurigaan yang sama diantara para inkuisitor membuat dia dipenjarakan kembali. Ia dibebaskan dengan syarat tidak mengadakan pertemuan-pertemuan seperti yang sudah ia selenggarakan sebelumnya. Lalu ia melanjutkan perjalanan ke Paris untuk meneruskan studinya di College ot Montaigu. Usaha-usahanya untuk mengindoktrinasi teman-teman kuliahnya dengan metode-metodenya yang khas dan ganjil, membuatnya berhadapan dengan Dewan Inkuisisi lagi. Setelah itu ia lebih menjadi berhati-hati, dia hanya mengadakan pertemuan dengan enam teman kuliahnya, dua diantaranya mau menjadi pengikutnya: Salmeron dan Lainez.
Bagaimana ia dapat menarik orang-orang muda, padahal ia seorang mahasiswa yang sudah tua ? Itu semua karena pesona yang sudah melekat padanya dan sebuah buku kecil yang dapat dibaca beberapa menit selesai. Buku ini dicetak berkali-kali sehingga jumlahnyapun tidak diketahui. Buku ini memuat 400 uraian, dan merupakan textbook-nya ordo Jesuit serta merupakan resume panjang perkembangan batin Loyola.
Ignatius menyadari bahwa cara terbaik untuk mengembangkan jati diri seorang mahasiswa adalah menjadi tuan bagi imajinasinya sendiri. Jadi semua kebenaran tentang dogma agama Katolik harus, tidak hanya direfleksikan, dihadapi dan dirasakan oleh orang yang mencurahkan dirinya sendiri untuk “penghikmatan” ini, dengan bantuan seorang “pengarah”. Dengan kata lain dia harus mengerti dengan mengenang misteri penghikmatan tersebut diiringi intensitas yang paling tinggi. Kepekaan seorang kandidat diisi dengan kekuatan-kekuatan yang menetap dalam ingatannya, bahkan dibawah alam sadarnya, akan sama kuatnya dengan usaha yang dia buat untuk membangkitkan dan membuatnya memahami penghikmatan tersebut selain penglihatan, pendengarannya, penciuman, indera perasa dan sentuhan memegang peranan masing-masing.
Pemberontakan para malaikat (malaikat iblis), Adam dan Hawa yang diusir dari Taman Eden, Pengadilan Tuhan, tempat-tempat penginjilan dan tahap-tahap Penderitaan Yesus dari Perjamuan Terakhir dan Penyaliban diceritakan ulang kali dihadapan para kandidat. Pemandangan yang muram diatur dengan ritme yang dibuat dengan rapih. Setelah empat minggu mengikuti penghikmatan dengan intensif disertai oleh seorang pengarah sebagai temannya, seorang kandidat akan siap untuk pelatihan dan perubahan berikutnya.
BAB III: PENDIRIAN ORDO
Serikat Yesus (The Society of Jesus) diresmikan pada Assumption Day (menurut ajaran Katholik merupakan hari dimana tubuh Bunda Maria diangkat ke Surga setelah kematiannya) tanggal 15 Agustus 1534 di Kapel Notre-Dame de Montmartre.Ignatius berumur 40 tahun. Setelah Komuni Kudus, pendukung dan teman-temannya bersumpah untuk pergi ke Jerusalem, segera setelah studi mereka selesai, untuk menginjili orang-orang kafir. Tetapi tahun berikutnya di Roma, Paus, yang mengatur Perang Salib antara kerajaan Jerman dan Republik Venice melawan orang Turki, membuktikan bahwa sumpah mereka itu tidak mungkin dilakukan. Sehingga Ignatius dan teman-temannya melakukan pekerjaan misionaris di negara-negara Kristen; di Venice, penginjilannya membangkitkan kecurigaan Dewan Inkuisisi. Konstitusi Serikat Yesus dirancang dan disetujui di Roma, oleh Paul III, tahun 1540, dan Jesuit menempatkan diri mereka dibawah pengaturan Paus dan berjanji akan mematuhi Paus sepenuhnya. Pengajaran, pengakuan dosa, kotbah dan kerja amal adalah bidang-bidang yang dipegang ordo baru ini, termasuk misi-misi keluar negeri seperti tahun 1541, Francis Xavier dan dua temannya meninggalkan Lisbon untuk pergi dan menginjili di Timur Jauh.
Tahun 1546, karir politik ordo Jesuit dimulai, ketika Paus memilih Lainez dan Salmeron mewakilinya di konsili Trente dengan posisi sebagai “ahli teologia Paus”.Semangat yang menyala-nyala semakin dibangkitkan seiring dengan bertambahnya waktu. Selain misi-misi luar negeri, aktifitas anak-anak Loyola mulai diarahkan pada jiwa-jiwa, khususnya diantara orang-orang yang berkuasa. Politik adalah bidang utama mereka, semua usaha dari para “pengarah” ini difokuskan kepada satu tujuan yaitu seluruh dunia tunduk kepada Paus. Untuk mewujudkan hal ini “para kepala” (orang-orang yang memegang kekuasaan penting) harus ditaklukkan terlebih dahulu. Ada dua senjata penting guna merealisasikan ide tersebut: menjadi imam penasehat orang-orang penting dan penasehat pendidikan anak-anak dari orang-orang tersebut. Dengan begitu masa sekarang aman, masa depan dipersiapkan.
Tahta Suci (Roma) segera menyadari kekuatan yang dimiliki ordo baru ini. Pada awalnya, jumlah anggota ordo dibatasi sebanyak 60 orang, tetapi kebijakan ini dicabut. Sewaktu Ignatius meniggal, tahun 1556, anak-anaknya tidak hanya sedang bekerja diantara para penyembah berhala di India, China, Jepang, Amerika, tetapi juga dan khususnya di Eropa, yaitu Perancis , Jerman bagian Barat dan Selatan, dimana mereka berperang melawan para heresy, di Spanyol, Portugal, Italia, dan bahkan Inggris, untuk mencapai Irlandia. Sejarah mereka yang penuh dengan perubahan dan kejutan, akan menjadi jaring Roma yang coba mereka sebarkan ke seluruh dunia yang mata rantainya akan selalu dirusak dan diperbaiki.
BAB IV: JIWA DARI ORDO JESUIT
Para Jesuit dulunya ingin menjatuhkan keabsolutan sistem monarki ke bawah Gereja Roma dan mempertahankan Gereja tersebut dalam masyarakat sipil sehingga para Paus bisa dianggap sebagai perwakilan sementara Bapa Sorgawi, kepala para orang Kristen.Selama para penguasa ini sepenuhnya patuh kepada perintah tuannya Jesuit dan Roma, para Jesuit akan menjadi pendukung yang setia. Sebaliknya kalau para pangeran/penguasa tersebut melawan, maka Jesuit berubah menjadi musuh yang paling menyebalkan.
Kita telah melihat melalui semangat penghikmatan, bagaimana pendiri Ordo ini tertinggal pada jamannya dalam hal pemahamannya yang sederhana, disiplin para rohaniawan dan secara umum, konsep mengenai bawahan. Konstitusi dan penghikmatan, dua hal penting dalam sistem ini, membuat kita tidak ragu akan ordo ini. Apapun yang mungkin dikatakan oleh muridnya Loyola, kepatuhan mendapat tempat yang istimewa.
Perjalanan ordo ini mengalami pasang surut karena tidak ada satu negarapun yang tidak menolaknya dan hal ini membuatnya dikenal oleh semua pemerintahan yang ada, bahkan oleh orang Katolik sendiri. Dengan memasukkan orang-orang yang benar-benar setia pada ordo ini, untuk mengajar orang-orang kelas atas, Serikat Yesus adalah penguasa universal atau Ultramontanism dan dikenal sebagai ancaman terhadap kedaulatan masyarakat sipil, karena aktivitas yang dilakukan oleh ordo ini semakin lama semakin berubah mengarah ke politik.
BAB V: HAK ISTIMEWA ORDO JESUIT
Setelah 1558, Lainez, ahli siasat konsili Trente yang licik, diangkat menjadi Jenderal Dewan Jemaat wilayah tersebut dan mempunyai kekuasaan untuk mengatur ordo Jesuit menurut inspirasinya sendiri.
Deklarasi yang ia rancang bersama Salmeron dimasukkan ke dalam konstitusi ordo Jesuit dalam membentuk sebuah uraian. Mereka mempraktekkan kekuasaan mutlak untuk memilih jenderal seumur hidup ordo Jesuit.Seorang supervisor, ahli keuangan dan para asisten yang berasal dari Roma juga membantunya untuk mengatur ordo Jesuit yang kemudian dibagi ke dalam lima jemaat wilayah yaitu Italia, Jerman, Perancis, Spanyol, Inggris dan Amerika, setiap wilayah dibagi menjadi propinsi yang menyatukan ordo-ordo Jesuit yang berbeda-beda pembentukannya. Hanya supervisor dan para asisten yang dicalonkan oleh dewan jemaat wilayah. Sang Jenderal menunjuk semua stafnya, mengumumkan perintah-perintah, mengatur kekayaan ordo sesuai dengan kemauannya dan mengarahkan segala aktifitas ordo yang mana akan dia pertanggungjawabkan hanya kepada Paus saja.
Karena misi-misinya sangat tergantung kepada pemimpinnya dan memerlukan otonomi yang lebih luas agar aksi-aksinya menjadi efektif, paus memberikan hak-hak istimewa yang tampaknya bagi ordo-ordo yang lain hak tersebut melebihi batas yang wajar.Karena konstitusinya juga, para Jesuit bebas dari kewajiban untuk mengasingkan diri yang umumnya biasa dilakukan oleh para pastor Katolik. Nyatanya mereka adalah para biarawan yang hidup “didunia” dan dari luar mereka sama sekali tidak berbeda dengan penatua biasa. Tetapi berlawanan dengan hal tersebut dan dengan jemaat wilayah lainnya, mereka tidak tunduk kepada otoritas uskup. Pada awal 1545, sebuah dokumen resmi dikeluarkan Paus Paul III yang mengijinkan para Jesuit untuk berkotbah, mendengarkan pengakuan dosa, mempersiapkan dan mengedarkan sakramen, dan hak untuk mengadakan misa; pendek kata menjalankan fungsi-fungsi mereka tanpa bertanggungjawab kepada uskup. Hanya pemberkatan pernikahan saja yang tidak boleh mereka lakukan.
Mereka mempunyai kekuasaan untuk memberikan pengesahan, mengubah sumpah atau bahkan membatalkan sumpah tersebut. Kekuasaan Jenderal Jesuit bahkan lebih besar lagi. Dia dapat mencabut hukuman yang menimpa para anggota Serikat Yesus sebelum atau sesudah mereka menjadi murid ordo tersebut.
Paus memerintahkan kepada para pangeran dan raja untuk menghargai semua hak istimewa kaum Jesuit, kalau tidak mereka diancam akan dicabut hak keanggotaan gerejanya.
Dengan memberikan semua hak istimewa tersebut, kepausan tidak hanya menyediakan bagi mereka senjata ampuh untuk melawan “para orang kafir“, tetapi juga menggunakan Jesuit sebagai pelindung untuk kekuasaan mereka didalam Gereja dan yang melawan Gereja. Kalau kepausan didukung oleh Jesuit, keseluruhan keberadaan Jesuit tergantung kepada spritual dan supremasi kepausan, sehingga kepentingan kedua pihak terikat satu sama lain.
Saat ini (saat ditulis buku ini) ada kurang lebih 33.000 anggota resmi Serikat Yesus yang beroperasi di seluruh dunia dengan berbagai tingkatan jabatan, prajurit dalam pasukan rahasia angkatan bersenjata yang mana berisi juga pemimpin partai politik, para pejabat tinggi, para jenderal, para penegak hukum, para dokter, para profesor fakultas, dan lain-lain.
Semuanya berjuang untuk mewujudkan “I’Opus Dei“, Pekerjaan Tuhan, dalam dunia nyata sebenarnya rencana-rencana kepausan.

kisah yang menginspirasi
ReplyDelete