Navigation

Sejarah Rahasia Jesuit Bagian 2 | JESUIT di EROPA SELAMA ABAD 16 dan 17

Sejarah Rahasia Jesuit | The Secret History of Jesuits 1975 by Edmond Paris

BAGIAN II: JESUIT di EROPA SELAMA ABAD 16 dan 17
BAB I: ITALIA, PORTUGAL, SPANYOL

Perancis adalah tempat kelahiran Serikat Yesuit, tetapi di Italia-lah program dan konstitusinya diterima. Di Italia, Serikat Yesus mengakar dan menyebar ke luar Italia. Italia sukar dijangkau oleh gerakan reformis. Berdasarkan sebuah laporan dari Jesuit, Emmanuael Phillibert of Savoy melakukan penghakiman berdarah terhadap para Heresi (orang-orang yang tidak sejalan dengan pengajaran Katolik Roma) tahun 1561. Hal yang sama terjadi di Calabria, Casal di San Sisto dan Guardia Fiscale.

Jesuit sangat berkuasa di Parma, dan Napoli selama abad ke-16 dan ke-17. Tetapi di Venice, dimana mereka sebelumnya diterima dengan segala kemurahan hati, kemudian dipaksa keluar dari kota tersebut pada 14 Mei 1606. Mereka kembali lagi tahun 1656, tetapi pengaruh mereka di Republik Venice tersebut tidak ada lagi.

Portugal adalah negara pilihan ordo ini. Para pastor Katolik Roma paling berpengaruh di Portugal dibandingkan di negara manapun. Mereka tidak hanya bertindak sebagai penasehat keagamaan keluarga kerajaan, tetapi raja dan para menterinya selalu berkonsultasi dengan para pastor tersebut mengenai hal-hal penting. Dari salah satu pengakuan mereka, kita mengetahui bahwa tidak satu tempatpun dalam administrasi negara dan gereja dapat diperoleh tanpa seijin Jesuit tersebut, bahkan seringkali para biarawan, orang-orang kelas atas dan masyarakat saling memberikan ijin hanya untuk memenangkan hati dan persetujuan masing-masing. Politik luar negeri Portugal juga dipengaruhi oleh para Jesuit.

Pada kenyataannya, kita bisa melihat keadaan Portugal yang tidak menggembirakan. Seluruh energi dan kecerdasan yang dimiliki oleh bangsawan Pombal, dipertengahan abad ke-18, dikerahkan untuk melepaskan Portugal dari cengkraman Ordo Jesuit.


Di Spanyol, penetrasi Ordo Jesuit berlangsung lamban. Terjadi konflik yang berkepanjangan antara Jesuit dengan biarawan yang lebih tinggi dan kaum Dominikan, Charles U dan Philip LL, pada saat menerima servis Jesuit, tidak mempercayai para pasukan Paus ini dan takut kekuasaan Jesuit berkembang di luar batas. Tetapi dengan kelicikannya ordo ini dapat mengalahkan perlawanan tersebut.

BAB II: JERMAN

Eropa Tengah : Perancis, Belanda, Jerman, Polandia secara histories merupakan situs pertempuran antara kaum Katolik dan Protestan. Negara-negara ini adalah ladang utama pertempuran bagi Serikat Yesus.

Di Bavaria, seorang Duke(bangsawan) muda Albert U, seorang Katolik fanatik dan terpelajar di Ingoistadt, sebuah kota Katolik kecil, meminta pertolongan Jesuit untuk berperang melawan para “heresy“ (kaum sesat).

Pada 7 Juli 1556, 8 pastor dan 12 guru jesuit memasuki Ingoistadt. Dimulailah era baru bagi Bavaria. Konsepsi Katolik Roma mengatur arah politik para pangeran dan tingkah laku para bangsawan Bavaria. Tetapi konsepsi itu hanya menjangkau kalangan atas saja, tidak rakyat biasa, walaupun demikian disiplin besi yang diterapkan oleh negara dan gereja membuat masyarakat Bavaria menjadi umat Katolik yang setia, patuh, fanatik dan tidak toleran terhadap para “heresy“.
Mayrhofer of Ingoistadt, seorang Jesuit, mengajarkan bahwa kami (Jesuit) tidak akan dihakimi jika kami memerintahkan untuk membunuh kaum Protestan, lain halnya kalau kami diminta menjatuhkan hukuman mati untuk para pencuri, pembunuh, penghianat dan para pelaku revolusi.
Sesaat setelah para pastor Jesuit tiba di Bavaria, kelakuan Albert V terhadap kaum Protestan dan semua yang simpatik terhadap Protestan semakin kejam dan menjadi-jadi. Sejak tahun 1563, tanpa belas kasihan dia memusnahkan semua orang-orang yang tidak patuh dan juga para penganut Anabaptis, mereka ditenggelamkan, dibakar, dipenjarakan dan dirantai, semua tindakan Albert V itu disetujui oleh Jesuit Agricola. Akhir tahun 1586, para penganut Anabaptis dari Movaria berhasil menyembunyikan 600 korban yang selamat dari penyiksaan Duke Guillaume. Ini satu contoh yang membuktikan bahwa beribu-ribu dan bukan beratus-ratus yang dimusnahkan, kekejaman yang mengerikan yang menimpa negara berpopulasi rendah ini. Secara perlahan, semua pengajaran di Bavaria diserahkan kepada Jesuit dan bumi Bavaria menjadi pusat penetrasi Jesuit ke Jerman bagian barat, timur dan selatan.


Archduke (bangsawan agung) Charles of Styrie, putra terakhir Ferdinand menikah dengan seorang putri bangsawan Bavaria tahun 1571. Dibawah pengaruh putri ini, Charles bekerja keras memusnahkan para heresi dari kerajaannya dan ketika ia meninggal, tahun 1590 dia meminta anaknya dan sekaligus penggantinya, Ferdinand, bersumpah untuk melanjutkan pekerjaannya. Ferdinand tentu saja siap untuk hal tersebut. Selama lima tahun sebelumnya Ferdinand adalah seorang murid Jesuit di Ingolstadt; lagipula dia seorang yang berpikiran dangkal sehingga baginya tidak ada tugas yang lebih mulia daripada membangun kembali Gereja Katolik di negaranya itu. Tidak peduli apakah itu merupakan suatu keuntungan bagi negaranya atau tidak, bukanlah urusan Tuhan, katanya, Saya lebih suka berkuasa atas negara yang tinggal puing belaka daripada atas negara yang dikutuk.

Tahun 1617, Archduke Ferdinand dimahkotai sebagai Raja Bohemia. Dipengaruhi oleh Viller, seorang Jesuit, Ferdinand berperang melawan kaum Protestan. Tindakannya itu merupakan awal perang agama berdarah, yang selama 30 tahun ke depan, mencengkram Eropa dalam ketakutan. Tahun 1618, Prague mulai memberontak secara terbuka, Kaisar Mathias mulanya mencoba untuk kompromi, tetapi dia tidak mempunyai cukup kekuatan untuk membuat semua keinginan menang atas raja Ferdinand, yang didominasi oleh para Jesuit; sehingga akhirnya harapan untuk menyelesaikan konflik tersebut sirna sama sekali. Pada saat yang bersamaan negara-negara Bohemia mengeluarkan deklarasi bahwa semua Jesuit harus keluar dari Bohemia, karena mereka menyadari bahwa Jesuitlah promotor perang sipil tersebut. Kemudian disusul oleh Moravia dan Silesie, dan kaum Protestan Hongaria dimana Jesuit Pazmany memerintah dengan tangan besi, memberontak juga. Tetapi pertempuran di White Mountain (1620) dimenangkan oleh Ferdinand, yang kemudian diangkat kembali menjadi Kaisar setelah kematian Mathias.
Jesuit membujuk Ferdinand untuk mengenakan hukuman yang kejam kepada para pemberontak. Protestanisme dicabut sampai keakar-akarnya di seluruh negara tersebut. Akhirnya di penghujung perang akan selesai, negara itu benar-benar hancur.
Setelah perang 30 tahun tersebut selesai, dan perjanjian perdamaian dibuat menjamin kaum Protestan Jerman mempunyai hak politik yang sama dengan orang Katholik, tetapi Jesuit terus “berperang“.

Jesuit mempunyai murid Leopold I, yang kemudian memerintah sebagai kaisar, dan berjanji untuk mengeksekusi orang-orang Protestan di seluruh negerinya, terutama Hungaria. “Dikawal“ oleh pasukan bersenjata berat kekaisaran, Jesuit menjalankan tugas meng-Katholik-an orang Hungaria tahun 1671. Rakyat Hungaria memberontak, perangpun dimulai dan berlangsung hampir satu generasi. Para pemberontak menang, dibawah kepemimpinan Francis Kakoczy. Sang pemenang mengusir keluar Jesuit dari negara-negara yang jatuh ke dalam kekuasaannya, tetapi ordo tersebut berhasil menunda tindakan itu dan pengusiran Jesuit baru terjadi tahun 1707.

Setelah perang agama, yang tersisa di Jerman adalah kekuatan politik yang lemah, keruntuhan secara intelektual dan moral, penurunan populasi penduduk yang tajam dan kemiskinan di seluruh Jerman akibat dari aksi-aksi Jesuit.

BAB III: SWISS

Selama abad ke-17 Jesuit mampu memantapkan dirinya di Swiss, setelah ditolak oleh beberapa kota konfederasi selama 50 tahun terakhir di abad ke-16. Uskup Agung Milan, Charles Barromee, menyadari apa yang akan terjadi karena tindakan-tindakan Jesuit. Charles menulis surat kepada penasehatnya bahwa Serikat Yesus akan menjadi sangat kuat. Dia akan menguasai raja dan pangeran dan mengatur urusan-urusan spiritual, institusi kepausan telah kehilangan maknanya, kita harus menghancurkan ordo ini.

Setiap rencana yang dibuat di Roma atau oleh kekuatan asing lainnya, untuk melawan Protestanisme di Swiss dapat dipastikan mendapat dukungan penuh dari Jesuit. Tahun 1620, Jesuit berhasil membuat populasi Katolik di Veltlin bangkit melawan kaum Protestan dan membunuh 600 orang Protestan. Paus memanjakan orang-orang yang ambil bagian dalam rencana tersebut. Tahun 1656, mereka menimbulkan perang diantara anggota-anggota dari berbagai macam aliran agama. Sekali lagi sebuah perang agama baru diprakarsai oleh Jesuit.

Tahun 1712, perundingan perdamaian diadakan di Aarau, Lucerne dan Uri baru saja menerima perjanjian damai tersebut ketika Jesuit, atas perintah dari Roma, melakukan segala cara untuk membalikkan keadaan. Jesuit menolak menghargai orang-orang yang enggan mengangkat senjata. Mereka memproklamirkan bahwa setiap orang tidak diharuskan menepati janjinya kepada kaum ”heresi”; mereka membuat para anggota dewan menjadi tersangka dan mencoba menyingkirkan mereka dari posisinya serta melakukan provokasi, di Lucerne, ada ancaman untuk membangkitkan perlawanan rakyat terhadap pemerintah. Orang Katholik kalah dalam peperangan dan terpaksa menandatangani perjanjian damai.

Sejak saat itu pengaruh jesuit di Swiss semakin mengecil. Saat ini UUD Swiss pasal 51 melarang Serikat Yesus mengadakan aktifitas kebudayaan dan pendidikan di wilayah territorial konfederasi, dan usaha-usaha untuk menghapuskan pasal 51 ini selalu dapat dikalahkan.

BAB IV: POLANDIA dan RUSIA

Dominasi Jesuit di Polandia merupakan yang terburuk dibandingkan di negara-negara lain. Jesuit sepenuh bertanggungjawab terhadap pengerusakan dan kemerosotan Polandia dimulai bahkan sebelum mereka tiba di negeri ini. Dari semua negara, Polandia yang memiliki berjuta-juta Kristen Ortodoks, sudah sepantasnya mengakui toleransi beragama sebagai seluruh satu prinsip utama dalam politik dalam negerinya. Jesuit tidak menyukai hal tersebut.
Kolonel Beck, menteri luar negeri Polandia dari tahun 1932-1939 berkomentar (setelah Perang Dunia II) : ”Vatikan adalah penyebab utama tragedi di negeri saya. Saya terlambat menyadari bahwa kami telah menjalankan politik luar negeri untuk kepentingan gereja Katolik“.
Tahun 1581 Pastor Possevino, berusaha mempertemukan Czar Ivan the Terrible dari Moskow dan Gereja Roma. Ivan menerima. Penuh dengan harapan, Possevino, tahun 1584, menjadi mediator perdamaian di Kirewora Gora antara Rusia dan Polandia, sebuah perjanjian perdamaian yang menyelamatkan Ivan dari kesulitan-kesulitan yang tidak mudah dielakkan. Sebenarnya ini yang diharapkan oleh penguasa yang licik itu, Ivan. Tidak ada lagi pembicaraan mengenai pengkatolikkan Rusia. Possevino meninggalkan Rusia tanpa hasil. Dua tahun kemudian kesempatan bagi para pastor/biarawan yang lebih baik muncul untuk menguasai Rusia : Grisehka Ostrepjew, -seorang mengungkapkan bahwa dia sebenarnya Dimitri, putra Czar Ivan, yang telah dibunuh- berjanji untuk menyerahkan Rusia kepada Roma karena dia adalah pewaris tahta Czar. Tanpa pikir panjang, Jesuit memperkenalkan Ostrepjew kepada keluarga Palatine of Sandomir yang kemudian menikahkan putrinya dengan Ostrepjew. Mereka berhasil membangkitkan tentara Polandia untuk melawan Czar Boris Gondovnov. Sebagai hadiahnya, Dimitri palsu menyerahkan, dalam nama Ostrepjew, dan menjanjikan pembentukan ordo Jesuit di Moskow, dekat Kremlin, setelah kemenangannya atas Boris.

Tanggal 27 Mei 1606, Dimitri palsu membunuh beberapa pengikut Polandia. Aliansi antara Austria dan Sigismond III untuk melawan Turki, yang tentunya didukung oleh Ordo Jesuit. Polandia merupakan negara yang paling menderita karena dominasi Jesuit, dan Portugal merupakan negara dimana Jesuit begitu berkuasa. Polandia tidak hanya memiliki seorang raja para Jesuit, tetapi juga seorang raja Jesuit tulen, Jean-Casimir, penguasa milik ordo Jesuit sebelum pengangkatannya sebagai raja tahun 1649.


BAB V: SWEDIA dan INGGRIS


Di negara-negara Skandinavia, paham Lutheran menenggelamkan segala sesuatunya, dan sewaktu para Jesuit balik membalas, mereka tidak menemukan seperti apa yang terjadi di Jerman : partai Katolik termasuk kelompok minoritas tetapi tetap kuat.

Harapan mereka satu-satunya adalah berusaha mengkatolikkan penguasa yang secara rahasia disukai oleh Ke-katholik-kan yaitu raja Jean III lagipula dia menikahi seorang putri Polandia, Catherine, seorang Katolik Roma tahun 1568. Tahun 1574, Pastor Nicolai dan Jesuit lainnya dikirimankan untuk mendirikan sekolah teologia dimana mereka menjadi para “penginjil” (proselytizers) Roma yang emosional. Kemudian sang negosiator yang pandai, Possevino berhasil mengkatholikkan Jean III dan mengatur pendidikan putranya Sigismond, yang akan menjadi Sigismond III, raja Polandia, ketika saatnya tiba untuk menyerahkan Swedia kepada Tahta Suci, keadaan raja : pernikahan para pendeta, penggunaan bahasa daerah dalam misa dan komuni, yang semuanya telah ditolak oleh kaum Curia Roma, membuat negosiasi-negosiasi menemui jalan buntu. Lagipula, raja yang telah kehilangan istri pertamanya ini, menikah kembali dengan seorang Lutheran dari Swedia, Jesuit akhirnya harus meninggalkan negara tersebut.

50 tahun kemudian ordo Jesuit memperoleh kemenangan besar di Swedia. Ratu Christine, putri Gustave-Adolphe, keturunan terakhir dari keluarga Wasas, menjadi Katolik karena konflik. Karena pindah agama, Ratu Christine pun harus turun tahta tanggal 24 Juni 1654.
Di Inggris sebaliknya, situasi tampaknya berpihak pada Serikat Yesus ini dan berharap, walaupun untuk sementara, membawa negara ini kembali di bawah kekuasaan Tahta Suci. Pada waktu Elisabeth naik tahta tahun1558, seluruh penduduk Irlandia adalah umat Katholik, sedangkan Inggris mencapai 50% dari total penduduk pada tahun 1542.

Seminari-seminari dibentuk dibawah arahan Jesuit, dengan tujuan untuk melatih para misionaris Inggris, Irlandia dan Skotlandia. Dalam perjanjian dengan Philip II dari Spanyol, Roma bekerja untuk menyingkirkan Elizabeth demi kepentingan Mary Stuart yang Katolik. Jesuit yang telah tiba di Inggris tahun 1580, ambil bagian dalam sebuah pekerjaan besar Katolik di Southwork.

Jesuit,secara rahasia, mencetak selebaran yang mennetang Ratu dan Gereja Anglikan. Salah satu dari Jesuit itu, Pastor Campion, akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Mary Stuart pun dihukum mati tahun 1587.

Kemudian datanglah ekspedisi Spanyol yang membuat Inggris gemetar untuk sesaat dan hal ini membuat Jesuit sedikit leluasa untuk bergerak. Walaupun Jesuit tidak bisa melanjutkan proyek-proyek besarnya dan hanya melatih pastor-pastor Inggris di Valladolid, Seville, Madrid dan Lisbon, tetapi propaganda rahasianya masih berlanjut di Inggris dibawah arahan Pastor Garnett. Dibawah Raja James I, pengganti Elizabeth, Garnett ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung juga.

Dibawah pemerintahan Raja Charles II, yang bersama Louis XIV menandatangani perjanjian rahasia untuk mengembalikan Kekatolikan di Inggris, Jesuit mengira akan menang. Tetapi mereka salah, Charles II menggantung 5 pastor Jesuit dengan tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi. Demikian juga pada masa Raja James II, yang berpura-pura akan mengkatolikkan Inggris dan mengijinkan Jesuit di negaranya. Jesuit kembali tertipu.

Semua peristiwa diatas menjadi penyebab revolusi 1688. Jesuit terlalu lemah untuk melawan arus. Di Inggris, perbandingannya adalah 20 orang Protestan untuk 1 orang Katolik. Raja terjungkal; semua anggota Jesuit dimasukkan ke dalam penjara atau bahkan dibinasakan. Jesuit telah kalah di Inggris.

BAB VI: PERANCIS

Tahun 1551, ordo Jesuit mulai menancapkan kukunya di Perancis, setelah 17 tahun sejak pendiriannya di Kapel Santo Denis di Montmartre.

Mereka memperlihatkan diri mereka sebagai musuh gerakan reformasi yang telah memenangkan sepertujuh populasi Perancis, tetapi rakyat Perancis mencurigai para Jesuit ini sangat loyal terhadap Tahta Suci sehingga penetrasi Jesuit berlangsung lamban pada awalnya. Seperti layaknya di negara lain dimana mereka tidak disukai oleh rakyat kebanyakan, mereka mendekati pejabat-pejabat pengadilan, kemudian melalui orang-orang ini, mereka masuk ke kalangan kelas atas. Tetapi di Paris, anggota Parlemen dari kalangan universitas dan bahkan Pendeta tetap menunjukkan sikap bermusuhan. Hal itu tampak jelas sewaktu Jesuit hendak membuka sebuah sekolah (college).

Walaupun demikian para Pastor Jesuit diijinkan menetap di Billom, sudut kota Auvergue. Dari daerah ini, mereka mengatur sebuah aksi besar melawan gerakan reformasi di propinsi-propinsi di Perancis bagian Utara.

Ordo Jesuit akhirnya berhasil mendirikan College of Clermont berkat Ibu Suri Catherine of Medici, yang mana akhirnya terjadi persaingan dengan pihak Universitas. Perlawanan dari Universitas, Pendeta dan Parlemen berkurang karena konsesi, secara verbal, yang dibuat ordo tersebut yang berjanji untuk menyetujui hak azasi manusia; tetapi pihak Universitas telah berjuang lama dan keras melawan slogan “Manusia disuap dengan dibiayai oleh Perancis untuk mempersenjatai mereka sendiri melawan Raja”, menurut Etienne Pasquier, dan yang kata-katanya kemudian terbukti benar.

Dalam College of Clermont dipraktekkan hal berikut “Jacques Clement telah melakukan perbuatan terpuji yang diilhami oleh Tahta Suci........ jika kami bisa berperang melawan raja (Perancis), maka mari kita berperang; jika kita tidak bisa berperang melawan raja, maka mari kita bunuh dia........” dan berikut ini “Kita membuat kesalahan besar pada hari Santo Bartholomew; seharusnya kita menumpahkan darah anggota kerajaan.”


Tahun 1592 Barriere yang mencoba membunuh Henry IV mengaku bahwa Pastor Varade, Rektor Ordo Jesuit di Paris, telah membujuknya untuk melakukan percobaan pembunuhan tersebut. Tahun 1594, lagi usaha pembunuhan dilakukan oleh Jean Chatel, mantan murid Jesuit yang telah mendengarkan pengakuan Barriere sebelum melakukannya. Latihan-latihan untuk melakukan pembunuhan tersebut dilaksanakan dikediaman Pastor Guignard. Pastor tersebut kemudian dihukum gantung di Greve. Kemudian Raja mengeluarkan maklumat agar Parlemen menghancurkan ordo Jesuit dari kerajaannya, karena mereka adalah “Koruptor, perusak kedamaian umum dan musuh Negara dan Kerajaan Perancis”

Maklumat tersebut tidak dijalankan dengan sepenuhnya, tahun 1603, maklumat tersebut dicabut oleh Raja tanpa menghiraukan nasehat dari Parlemen. Aguaviva, Jenderal Jesuit, pandai dalam melakukan manuvernya dan dapat meyakinkan Raja Henry IV bahwa bila ordo Jesuit didirikan kembali di Perancis, akan melaksanakan kepentingan negara dengan loyal. Bagaimana dia bisa mempercayai bahwa orang-orang Roma yang fanatik akan menerima maklumat Nantes (1498) yang menetapkan hak-hak orang Protestant di Perancis, dan bahkan lebih buruk lagi mereka (Ordo Jesuit) akan mendukungnya (Henry IV) melawan Spanyol dan Kekaisarannya ? Kenyataannya, Henry IV memilih Pastor Cotton, seorang anggota ordo Jesuit yang paling menonjol, sebagai penasehat dan pembimbing keluarga Dauphui. Tanggal 16 Mei 1610, pada malam kampanye Henry IV untuk melawan Austria, dia dibunuh oleh Ravaillac yang mengaku bahwa ia telah diilhami oleh tulisan-tulisan Pastor Mariana dan Suarez.

Parlemen menyatakan bahwa Ravaellac hanyalah alat dari ordo tersebut dan memerintahkan untuk membakar buku-buku Mariana.

Berkat Pastor Cotton, Serikat Yesus dapat keluar dari permasalahan ini. Kekayaannya, institusi-institusi yang didirikannya bertumbuh dengan cepat. Sewaktu Louis XIII naik tahta, dan Richelieu memegang kuasa pemerintahan, terjadi benturan-benturan kepentingan. Kardinal tidak membiarkan seorangpun melawan kebijakan politik Richelieu Caussin seorang Jesuit dan penasehat Raja, mengetahui hal tersebut sehingga ia dimasukkan ke dalam penjara, atas perintah Richelieu, sebagai musuh negara.

0 comments: