Navigation

Sejarah Rahasia Jesuit Bagian 3 | MISI

Sejarah Rahasia Jesuit | The Secret History of Jesuits 1975 by Edmond Paris

BAGIAN III: MISI
BAB I: INDIA, JEPANG, CINA

Menarik orang-orang kafir menjadi Katholik merupakan tujuan pertama ordo Jesuit. Walaupun kebutuhan untuk memerangi kaum Protestan di Eropa melibatkan murid-murid Jesuit, dan secara politik dan keagamaan, menjadi tugas utama mereka, mereka kemudian melalui penginjilan di negara-negara yang jauh.
Idealisme mereka adalah menaklukkan dunia dibawah kekuasaan Tahta Suci, sehingga mereka harus pergi keseluruh dunia untuk menaklukkan jiwa-jiwa.
Francis Xavier, salah satu teman Iganitius yang pertama, adalah pendukung terbesar penginjilan di Asia. Tahun 1542, dia mendarat di Gaa dan mendapatkan bahwa disana sudah ada seorang Uskup, sebuah Katedral dan ordo Fransiscan yang bersama dengan para pendeta Portugis sudah memulai penyebaran ajaran Kristus. Sebenarnya ia tidak lebih dari hanya seorang pelopor dan “penggembira” daripada seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang abadi. Berapi-api, antusias, selalu mencari “ladang” baru, dia tidak lebih seorang penunjuk jalan daripada seorang yang melapangkan jalan. Di Malaka, pulau Banda, Makasar dan Srilangka, ia memenangkan 70.000 orang kafir terutama dari kasta rendahan karena kepribadiannya yang menyenangkan dan kemampuan pidatonya yang mengagumkan. Ia berhasil karena tidak memandang rendah terhadap dukungan politik dan militer Portugis. Hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya kepentingan terhadap misi serupa di Eropa dan kemashyuran terhadap Serikat Yesuit.

Francis Xavier kemudian meninggalkan India menuju Jepang. Tahun 1552, ia meninggal saat hendak memasuki Canton, Cina. Pengganti Francis Xavier di India, Robert de Nobile, dengan sukses menerapkan metode yang sama yang diterapkan di Eropa. Ia masuk ke kalangan atas dengan cara mengadopsi cara berpakaian mereka, kebiasaan, cara hidup kaum Brahmana, dan mencampur upacara keagamaan mereka dengan Kekristenan. Dia mengaku telah memenangkan 250.000 jiwa, tetapi seabad setelah kematiannya, sewaktu dilakukan observasi oleh Paus Benedict XIV, ke - 250.000 tidak tampak batang hidungnya.

Francis Xavier yang mendarat di Jepang mulai melakukan tugasnya, bersama dengan seorang penduduk asli Jepang yang telah menjadi seorang Katolik, Yagiro.Setahun kemudian dia mengaku telah memenangkan 100.00 jiwa. Tahun 1587 terjadi peperangan antar klan di Jepang. Jesuit memanfaatkan perang ini dan bekerja sama dengan pedagang Portugis. Karena kerja-sama-nya ini, penguasa Jepang yang menang tidak mempercayai Jesuit lagi. Akibatnya gereja Katolik di Jepang dihancurkan, 6 pastor ordo Fransiskan dan 3 pastor ordo Jesuit disalib, orang-orang Katolik Jepang dibunuh dan ordo Jesuit pun dilarang.

Peristiwa diatas tidak menyurutkan semangat Jesuit. Mereka tetap bertahan di Jepang dan melakukan kegiatannya dengan rahasia. Tahun 1614, Shogun pertama, Tokugawa Yagasu, tidak menyukai aksi berhala mereka mulai mengeksekusi para Jesuit. Tahun 1638 pemberontakan oleh para Kristen Nagasaki ditumpas. Berakhirlah petualangan Jesuit di Jepang.

Di Cina, Jesuit diterima dengan baik dan kebanyakan berperan sebagai ilmuwan dan tunduk kepada upacara keagamaan yang telah berusia beratus-ratus tahun. Ilmu yang ditransfer kepada orang Cina yaitu meteorologi dan kenyataan bahwa bumi adalah bulat. Lagipula orang Cina tidaklah sefanatik orang Jepang. Sebelumnya seorang pastor Italia, Ricci, telah membuka jalan ke Cina. Dia menjadi seorang astronomi. Astronomi dan matematika memegang peranan penting dalam institusi-institusi ilmiah di Cina.

Sebenarnya cukup menggelitik untuk diketahui bahwa para pastur di Peking sibuk meralat kekeliruan-kekeliruan dalam astronomi Cina, sedangkan di Roma, Tahta Suci terus menghujat sistem Copernicus dan hal tersebut terjadi sampai 1822 !

Tahun 1599 gereja Katolik pertama di Peking berdiri. Kemudian Ricci meninggal dan digantikan oleh seorang Jerman, Pastur Shall von Bell, seorang ahli astronomi yang juga menerbitkan beberapa tulisan dalam bahasa Cina; tahun 1644, dia diberi gelar “Presiden Matematika”, yang tentu saja menimbulkan keirian di antara orang-orang Cina sendiri. Tahun 1617, semua orang asing di usir keluar Cina; kemungkinan karena para pastur yang baik itu dikirimkan ke Portugis dalam kurungan kayu; tetapi kemudian mereka dipanggil kembali karena mereka merupakan para ahli astronomi yang terampil. Kaisar melihat suatu ramalan adanya bahaya karena penetrasi dari Pasifik.

Tidak hanya dalam astronomi, dalam penginjilanpun mereka terampil. Mereka menginjili di 41 daerah di Cina, 159 gereja didirikan dan 257.000 anggota dibaptis. Tetapi kemudian mereka diusir lagi dan Pastur Shall akan dihukum mati. Tetapi dia selamat karena adanya gempa bumi dan kebakaran di istana kekaisaran yang dengan cerdiknya diubah menjadi sebagai tanda bahwa sorga sedang murka, dan dia meninggal 2 tahun kemudian dengan damai. Rekan-rekannya akhirnya harus meninggalkan Cina.

Tahun 1669, atas penghargaan yang tinggi kepada para Jesuit Kaisar Kang-Hi memanggil mereka kembali dan memerintahkan upacara pemakaman yang khidmat terhadap sisa tulang Lam Lo Vam (Jean-Adam Shall). Seorang pastur Belgia, Verbiest, menggantikan Shall. Kang-Hi yang memerintah selama 61 tahun sangat menghargai segala hal yang telah dilakukan oleh Verbiest.

Tetapi di Cina seperti halnya di Malabar, Katolik tidak akan bertahan kalau tidak disertai dengan kelicikan-kelicikan Jesuit men-campur-aduk-kan doktrin Roma dengan pengajaran Cina, Tuhan disamakan dengan Tien atau Chang-Ti, mencampur ritual Kristen dengan Ritual Cina, menerima pengajaran Konfusius, pemujaan para leluhur dan lain-lain.
Paus Clement XI mengecam cara Jesuit tersebut dan akhirnya pekerjaan Jesuit di Cina hancur. Pengganti Kang-Hi melarang kekristenan dan para pastur terakhir di Cina meninggal dan tidak digantikan.
BAB II: AMERIKA: PARAGUAY, NEGARA JESUIT

Misionaris Serikat Jesuit di benua Amerika jauh lebih mudah daripada di Asia, karena:

1. Tidak ada peradaban yang maju seperti astronomi di Cina.
2. Tidak ada agama yang mapan
3. Suku-suku yang miskin dan barbar
4. Secara rohani tidak ada kekuatan.

Di Canada, suku Huron menerima Jesuit sedangkan suku Iroguois, musuh suku Huron menyerang pos-pos Jesuit di benteng Sainte-Marie dan membunuh penghuninya. Tahun 1649, 300 orang yang selamat meninggalkan Canada.

Tahun 1546, Portugis memanggil para Jesuit untuk bekerja di daerah-daerah yang dikuasai Portugis di Brasil; terjadi banyak konflik antara Jesuit dengan penguasa sipil dan ordo-ordo lainnya.

Tetapi Paraguay adalah negeri untuk dijadikan koloni Jesuit; negeri ini terbentang dari Atlantik sampai Andes dan meliputi daerah-daerah, yang sekarang menjadi milik Brasil, Uruguay dan Argentina. Awal abad 17, Paraguay dijadikan propinsi oleh Jenderal Ordo Jesuit yang mendapat kuasa dari pemerintah Spanyol.

Jesuit menerapkan disiplin keras terhadap masyarakat baru ini suku Guarani. Semua yang dimiliki seorang Kristen adalah kepunyaan Tuhan. Anak yang menyusui harus dalam perlindungan ibunya.......kalau dia sudah bisa berjalan, dia ada di bawah kekuasaan pastur. Pada saat beranjak dewasa, anak perempuan diajar memintal, dan yang laki-laki diajar membaca dan menulis. Ketika yang perempuan berusia 14 dan laki-laki 16 tahun, mereka dinikahkan. Tidak satupun dari mereka dapat menjadi pastur, biarawan, apalagi seorang Jesuit.......tidak ada kebebasan..........Jesuit mengawasi mereka dan juga menghukum mereka atas kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun.

Suku Guaranis ini harus menerima semua metode ala Jesuit selama lebih dari 150 tahun, sampai para Jesuit meninggalkan Paraguay pada abad 18. Suku Guaranis kembali lagi ke hutan mereka, kembali ke sifat asal mereka: malas, picik, sensual, rakus, jorok dan menjalankan kebiasaan kunonya lagi, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

0 comments: