Navigation

Sejarah Rahasia Jesuit Bagian 5 | LINGKARAN SETAN

Sejarah Rahasia Jesuit | The Secret History of Jesuits 1975 by Edmond Paris

BAGIAN V: LINGKARAN SETAN

BAB I: PERANG DUNIA I

Ketakutan timbul di kalangan Vatikan karena aliansi Franco-Rusia. Franco memutuskan untuk tidak berdiri sendiri untuk menghadapi Vatikan dan aliansi Austria-Hungaria.

Sementara itu Gereja Ortodoks tetap menancapkan kukunya di wilayah Balkan, khususnya Serbia, dimana perjanjian Bukarest mengakhiri konflik di Balkan, yang telah membuatnya menjadi pusat perhatian rakyat Slav Selatan dan yang khususnya berada di bawah kendali Austria. Rencana Vatikan yang ambisius dan kerajaan apostolik Hapsburgs merupakan catatan yang sempurna, seperti di masa lalu. Bagi Roma dan Vienna, meningkatnya kekuatan Serbia membuatnya menjadi musuh yang harus disingkirkan. Hal ini terbukti dalam dokumen diplomatik yang ditemukan dalam kumpulan dokumen Austria-Hungaris, yang menyatakan: untuk kepentingan PM Austria Berchtold, pada pembicaraan dengan Pangeran Schonburg di Vatikan pada Oktober-November 1913; bahwa Paus mengatakan akan lebih baik kalau Austria-Hungaria menghukum Serbia atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.

Perang urat syaraf yang disebabkan sentimen Pius X itu pun terjadi tahun 1913. Tetapi, tanggal 28 Juni 1914, bangsawan Francois-Ferdinand terbunuh di Sarajevo. Pemerintah Serbia tentunya tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini karena pembunuhan ini dilakukan oleh seorang mahasiswa Makedonia, tetapi pembunuhan tersebut dijadikan alasan yang sempurna bagi Francis-Joseph untuk memulai perang. Gereja Roma memang bukan simbol perdamaian, tetapi hanya seorang provokator licik.

Pengganti Pius X, Benedict XV, menunjuk Kardinal Ferata sebagai sekretaris negara. Tetapi sang kardinal tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena pada tanggal 20.10.1914 (dia memulai tugasnya akhir September) dia meninggal mendadak di meja kerjanya. Dokter yang memeriksa kardinal tersebut menyadari adanya suatu situasi yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Konsultasi kilat diadakan dengan 6 rekannya yang lain. Akhirnya diputuskan untuk tidak mengeluarkan cacatan medis; sedangkan yang dipublikasikan kepada masyarakat tidak ditandatangani oleh pada dokter tersebut. Diduga kardinal tersebut telah diracun.

Kardinal Ferrata adalah kardinal yang netral, kematiannya terjadi pada saat yang tepat. Penggantinya adalah Kardinal Gasparri, yang berusaha keras untuk melakukan yang terbaik bagi pemerintah pusat. Paus Benedict XV pun berusaha keras agar Italia tetap melakukan intervensi dalam perang tersebut demi menyenangkan Jesuit.

Tanggal 1915, Kardinal Gasparri menandatangani suatu ketetapan bahwa diperintahkan untuk menetapkan satu hari untuk berdoa demi mempercepat perdamaian. Perancis menolak hal ini karena cara ini hanya untuk memperlambat usaha pasukan perang Perancis dan hanya menguntungkan pasukan Jerman yang sudah terdesak. Paus bukanlah seseorang yang suka akan Perancis; dia lebih suka kepada Jerman. Aksi-aksi Jesuit, yang juga merupakan aksi-aksi Vatikan, tidak hanya dirasakan di Italia dan USA, tetapi di semua tempat.

Saran-saran untuk memulai perang, yang berasal dari Paus dan PM Italia, yang ternyata seorang Jesuit, mulai dilemparkan. Serbia sendiri, yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Francois-Ferdinand berusaha mempertahankan perdamaian dengan melakukan semua keinginan-keinginan pemerintah Austria yang sebelumnya telah mengirimkan surat ancaman ke Belgrade.

Pihak Vatikan terus menyangkal isu-isu yang beredar bahwa Paus turut campur dalam usaha untuk memecah belah negara-negara Kristen melalui perang. Sekretaris negara Vatikan, Merry del Val melayangkan surat bantahan kepada Count Palffy, seorang wakil Austria di Vatikan, tanggal 29.7.1914. Padahal sebelumnya, tanggal 27.7.1914, keduanya mengadakan pembicaraan. Pernyataan Vatikan tersebut tentunya bertentangan dengan kenyataan, karena tanggal 26.7.1914, Baron Ritter, perwakilan Bavaria untuk Vatikan melayangkan surat kepada pemerintahnya yang menyatakan bahwa adanya persetujuan Paus agar Austria menindak keras Serbia.

Tahta Suci sadar sepenuhnya resiko besar yang ditimbulkan oleh konflik antara Austria dan Serbia, tetapi Tahta Suci tetap melakukan segala cara untuk mendorong konflik itu menjadi parah. Paus dan para Jesuit tidak peduli dengan penderitaan yang dialami oleh “negara-negara Kristen”, sudah berkali kali negara-negara tersebut diperalat untuk kepentingan politik Roma. Jerman diadu dengan Rusia Ortodok, Perancis dan Inggris sudah pernah diperalat oleh Roma.

Empat puluh tahun setelah kematian Pius X, 20.8.1914, dia dinyatakan oleh Pius XII sebagai santo dan menyatakan “ Pius X melakukan segala usaha untuk mencegah timbulnya perang tahun 1914 dan dia meninggal dalam penderitaan dan penyesalan sewaktu dia memperkirakan dan melihat penderitaan akibat perang tersebut. Usulan perdamaian oleh Paus, Agustus 1917, kepada negara-negara Perancis, Inggris, USA, dan khususnya Italia ditolak mentah-mentah.

Empat tahun kemudian, 22 April 1921, terungkap bahwa usulan perdamaian yang diajukan Agustus 1917 tersebut, sebelumnya telah didahului oleh perjanjian rahasia antara Tahta Suci (yang diwakili oleh Monseigneur Pacelli, calon Paus Pius XII) dan Jerman. Paceli mulai menyusun aksinya dengan melempar intrik dari pembentukan Republik Jerman sampai mempersiapkan balas dendam yang akan dilakukan tahun 1939 dengan mendorong Hitler menjadi penguasa.

Para sekutu yang menandatangani Perjanjian Versailles, Juli 1919, menyadari adanya campur tangan Vatikan dalam Perang Dunia I, tetapi mereka tidak memberi sanksi kepada Vatikan dan Jesuit sehingga mereka harus menuai bencana 20 tahun kemudian, bencana terburuk dalam sejarah manusia.

BAB II: PERSIAPAN UNTUK PERANG DUNIA II

Tahun 1919, rencana-renacan Jesuit gagal semuanya. Perancis tidak mau tunduk, Slavia Ortodok lepas dari Roma. Rusia menjadi marxis. Walaupun begitu merupakan hal tabu bagi Jesuit untuk mengakui dosa-dosanya. Setelah Benedict XV meninggal tahun 1922, dan digantikan oleh Paus Pius XI yang seorang Jesuit, Jesuit mulai menyusun rencananya kembali.

Masa Paus Pius XI adalah masa persiapan, dimulai dengan mendirikan Russian College yang diatur oleh Jesuit. Ia juga mengelola “Oriental Institute”, The Institute of St. John Damaslene, Polish College dan Lithuanian College. Mereka memanfaatkan Revolusi Rusia yang menjatuhkan Czar, pelindung Gereja Ortodoks. Di Italia, mereka mendukung Don Sturzo, seorang pendiri partai yang terkenal di Italia, kemudian Mussolini pun didukungnya. Di Eropa secara keseluruhan, mereka berusaha untuk menghentikan kebangkitan paham demokrasi.

Italia menjadi kawasan dimana aksi Jesuit dimulai. Mussolini telah mengadakan negosiasi-negosiasi rahasia dengan para agen Pius XI. Salah satunya adalah Pastor Tacchi Venturi, sekretaris Serikat Yesus dan bapak rohani Mussolini, yang telah melakukan misinya dengan sangat baik. Tanggal 16.11.1922 Parlemen Italia memilih Mussolini menjadi pemimpin. Sepuluh tahun kemudian manuver yang sama membuahkan hasil yang sama juga di Jerman. Paham NAZI mulai unjuk gigi.

Berawal di Italia, tahun 1922, paham fasisme mulai disebarkan oleh Jesuit di Eropa. Mussolini menetapkan Katolik Roma sebagai agama negara, menghadiahkan Tahta Suci 1.750.000.000 lira (± _ 20.000.000) dan kekuasaan atas daerah kota Vatikan. Italia telah membiarkannya dirinya jatuh ke tangan Roma yang licik. Mussolini dipersiapkan untuk membalas kekalahan tahun 1918. Dari Italia, paham fasisme memasuki Jerman. Hitler menerimanya dengan terbuka. Tahun 1923, Facism (pimpinan Mussolini) bergabung dengan National-Socialism (pimpinan Hitler); Mussolini sangat bersahabat dengan Hitler. Paham Nazi mulai menggeliat, musuhnya ada dua: Protestanisme dan demokrasi.

Setelah perang 1914-1918, Jenderal Jesuit, Halke von Ledochowski membuat rencana besar yaitu membentuk negara-negara federasi di Eropa tengah dan timur: Austria, Slowakia, Bohemia, Polandia, Hungaria, Kroasia dan Bavaria. Kerajaan baru ini akan berperang di dua front: sebelah timur melawan Uni Soviet dan disebelah barat melawan Prusia, Inggris-Protestan dan republik Perancis.

Tahun 1924 Tahta Suci menandatangani konkordat dengan Bavaria (Jerman). Tahun 1927 dalam “Cologne’s Bazette” ditulis Pius XI adalah paus “yang sangat Jerman” yang pernah duduk di Tahta Suci. 20 Juli 1932 langkah pertama yang diambil untuk memuluskan kediktatoran Hitler adalah dengan memproklamirkan pengepungan kota Berlin dan para menteri memecat “manu militari”. Pemilihan baru dipersiapkan yang tentunya untuk memantapkan kesuksesan para Nazi.
Di Italia, partai Katolik Don Sturzo mendukung Mussolini untuk berkuasa; di Jerman, Monseigneur Kaas (kepala partai “Catholic Centre”) melakukan hal yang sama kepada Hitler, dan kedua peristiwa itu konkordat ditandatangani. Hitler berkuasa pada tanggal 30 Januari 1933.
Selama tahun 1933 itu juga selain terjadi pemusnahan dan pembunuhan terhadap bangsa Yahudi yang dilakukan oleh Nazi, juga terdapat 45 kamp konsentrasi di Jerman, dengan 40.000 tahanan yang berasal dari berbagai latar belakang pandangan politik, tetapi kebanyakan adalah yang liberal.

Tahun 1937, Pius XI , dibawah tekanan dunia, “mengecam” teori rasial yang bertentangan dengan doktrin-doktrin prinsip Katolik. Rasialis Nazi dikecam, tetapi tidak mengecam Hitler. Di Jerman, “salib Kristus” dan swastika bekerja sama; Benito Mussolini menaklukkan Ethiopia, dengan berkat dari Bapa yang Kudus. Kepausan tidak mengecam politik Mussolini dan membiarkan para biarawan Italia bebas bekerjasama dengan pemerintah Fasis. Para Fasis kemudian mengagresi Albania pada Jumat Agung 1939, yang tentunya merupakan keuntungan untuk Gereja, karena dari 1 juta penduduk Albania ada 68% Muslim, 20% Ortodoks Yunani dan hanya 12% Katolik Roma....dari sudut pandang politik, aneksasi suatu negara oleh sebuah kekuatan Katolik dapat meningkatkan posisi Gereja dan menyenangkan Vatikan.

Apa yang telah dilakukan di Italia dan Jerman, juga dilakukan di Spanyol. Petualangan Jenderal Franco dimulai pada pertengahan Juli 1936. Sebelumnya pada tanggal 21 Maret 1934, Pakta Roma ditandatangani antara Mussolini dan para kepala partai pembangkang di Spanyol, salah satunya adalah M. Goicoechea, ketua “Renovacian Espanola”. Berdasarkan pakta ini, partai fasis Italia mensuplai para pemberontak dengan uang, material perang, senjata, aviasi dan ‘tenaga sukarela’ . Bagi Vatikan, orang yang beriman harus menghargai pemerintah yang sah, maka dia menekan Spanyol dengan ancaman-ancaman. Paus bahkan memproklamirkan perang spiritual antara Tahta Suci dan Madrid, yang kemudian dikembangkan menjadi perang sipil. Vatikan bahkan mengakui pemerintahan Franco pada tanggal 3 Agustus 1937, 20 bulan sebelum perang sipil berakhir.

Belgia juga dikuasai oleh Ke-katolik-an. Persiapan-persiapan dilakukan untuk menyongsong invasi yang dilakukan oleh pasukan Fuhrer (Hitler). Dengan dalih pembaharuan spiritual, injil Fasis Hitler disebarkan oleh Monseigneur Picard (seorang Jesuit), Pastor Arendt, seorang Jesuit, pastor Foucart, seorang Jesuit, dll. Seorang anak muda Belgia menyatakan bahwa para pemuda terobsesi dengan Fasisme. Moseigneur Picaard mengatakan bahwa Mussolini adalah seorang yang jenius. Bersama 300 orang murid lainnya, dia pergi ke Italia, setiap orang, dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing memberi hormat dengan gaya Roma, dan menyanyikan Giovinezza.

Nazi berkembang dengan cepat. Pada tahun 1919 anggotanya hanya 7 orang. Dibawah Hitler, propaganda dilakukan secara aktif di seluruh Jerman. Pertemuan-pertemuan Nazi selanjutnya dihadiri beberapa ratus, bahkan ribuan orang.

Pasukan Jerman mengalahkan pertahanan Belgia karena Belgia dikhianati oleh Leon Degrelle, yang sering berhubungan dengan Monseigneur Picard. Leon sendiri diserahi tugas penting untuk mengurusi perusahaan percetakan baru pada pusat “Catholic Action”, yang diberi nama Christus Rex. Di Radio Berlin, Degrelle mengatakan bahwa dia telah meminta Fuhrer untuk membom Anvers untuk membuat kota tersebut menjadi kota tanpa pelabuhan atau pelabuhan tanpa kota. Anvers sendiri dibom selama 6 bulan, siang dan malam. Pemboman ini dirahasiakan dengan baik, sehingga sekarang ini kemartiran kota Anvers dan Liege secara umum diabaikan.

Monseigneur Picard (orang penting), menyangkal pernah melihat atau mendengar tentang Leon Degrelle. Ternyata kedua pemimpin “Catholic Action” Belgia ini, yaitu Monseigneur Picard dan Canon Cardijn yang sama-sama bekerja dibawah Kardinal van Roey, tidak pernah bertemu satu sama lain! Canon kemudian diangkat menjadi monseigneur oleh Pius XII dan direktur gerakan “Jocist” di seluruh dunia. Monseigneur Cardijn pun menyangkal pernah bertemu dengan Leon Degrelle. Suatu keanehan, bukan? Mungkinkah karena suatu perjanjian khusus, keduanya tidak saling mengetahui bahwa mereka saling bekerja sama dan keduanya tidak menyadari hal tersebut? Tetapi fakta-fakta tidak dapat disangkali. Degrelle menjadi pemimpin “Rex” karena Monseigneur Picard, yang berada dibawah otoritas Kardinal Van Roey dan Monseigneur Micara.

Degrelle, sendiri dalam sebuah buku yang dicetak terbatas, mengakui bahwa dia pernah bertemu dan berkonsultasi dengan Kardinal van Roey. Kardinal ini adalah seorang fanatik terhadap Gereja Katolik dan menganggap segala sesuatunya penting selama hal tersebut untuk kepentingan Gereja Katolik. Gereja Katolik sudah merambah ke segala bidang: keagamaan (bidangnya sendiri), partai, surat kabar, kerjasama di bidang pertanian, institusi perbankan yang tentunya dapat menjamin kelangsungan Gereja itu sendiri. Bagi Kardinal perang sudah berakhir dan kolaborasi merupakan hal suatu kemungkinan yang harus dilakukan. Banyak orang Katolik datang ke Kardinal ini untuk meminta nasehatnya mengenai moralitas, kegunaan atau perlunya kolaborasi.

Pada tanggal 29 Mei 1940, sehari setelah penundukan Belgia, Kardinal van Roey menyatakan bahwa invasi Hitler ke Belgia merupakan hadiah dari surga. Tetapi tampaknya Hitler hanyalah sebuah alat yang dipakai untuk menghukum masyarakat Belgia. Propaganda yang dilakukan Hitler sepenuhnya didukung oleh Tahta Suci sesuai dengan surat yang dikirimkan Pius XI kepada seknegnya Kardinal Gaspari tanggal 26 Juni 1923.

Tahun 1924 Paus Pius XII menyampaikan ucapan turut berduka cita kepada pemerintah Perancis atas kematian kardinal Baudrillart. Ucapan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa aneksasi ke Perancis Utara oleh Jerman diakui oleh Paus Pius XII. Sebuah gerakan Katolik, Christian Front, dibentuk untuk memfasilitasi intervensi ke USA, dan organisasi ini dipimpin oleh Pastor Caughlin, seorang Jesuit dan pro-Hitler. Organisasi ini tidak pernah kekurangan suatu apa pun dan menerima banyak suplai berupa materi propaganda yang dipersiapkan oleh Kantor Goebbel. Melalui publikasi “Keadilan Sosial” dan siaran radio, Pastor Caughlin, rasul swastika, menjangkau masyarakat luas. Sebuah dokumen rahasia Wilhelmstrasse mengklarifikasikan hak berikut: “mengamati evolusi anti-semit di USA, kami mencatat bahwa jumlah pendengar siaran radio Pastor Caughlin yang terkenal karena antisemitnya, melebihi 20 juta pemirsa”.

Hal lain yang terungkap adalah ‘Mein kampf’, buku yang menentang keras demokrasi barat, ternyata ditulis oleh Pastor Jesuit Staempfle dan ditandatangani oleh Hitler. Banyak yang tidak peduli akan fakta ini – Serikat Yesuslah yang menyempurnakan program Pan Jerman yang dipaparkan dalam buku tersebut, dan Hitler menyetujuinya.

BAB III: AGRESI JERMAN DAN JESUIT


AUSTRIA-POLANDIA-CEKOSLOWAKIA-YUGOSLAVIA

AUSTRIA

Politik dalam negeri Austria dikendalikan oleh Monseigneur Seipel, seorang Jesuit. Penerusnya melakukan apa yang telah dilakukannya, sehingga Austria pun masuk dalam blok Jerman. Keputusan yang diambil untuk menekan kebangkitan kaum buruh, membuatnya dijuluki “Keine Milde Kardinal” (kardinal tanpa belas kasih). Awal Mei 1936, von Papen melakukan perundingan rahasia dengan Kanselir Austria, Dr. Schussnigg, untuk menunjukkan betapa menguntungkannya melakukan rekonsiliasi dengan Hitler karena hal itu juga untuk kepentingan Vatikan. Schussnigg yang merupakan murid Jesuit setuju untuk melakukan hal tersebut.

Tanggal 11.03.1938 Schussnigg mengundurkan diri, digantikan oleh Seyss-Inquart, pemimpin Nazi Austria. Sehari setelahnya pasukan Jerman memasuki Austria dan pemerintahan boneka Seyss-Inquart mengumumkan penyatuan negara tersebut dengan “The Reich” (Jerman).

Kardinal Innitzer, wakil gereja Roma di Austria, menyambut gembira hal tersebut. Dalam deklarasi yang dibuatnya, tertulis “Und Heil Hitler!” (Hidup Hitler!). Dalam deklarasi ini juga, kardinal tersebut mengundang para pemimpin organisasi kepemudaan untuk mempersiapkan penyatuan mereka dengan organisasi Jerman yang serupa . Tentunya hal ini sama saja dengan menyerahkan para pemuda “Kristen” untuk dilatih dengan menggunakan metode Nazi.

POLANDIA

Polandia pun berada dalam situasi yang sama dengan Austria sewaktu Hitler mencaplok sebagian dari negara tersebut, segera setelah dia menginvasinya. Nada yang sama juga dikeluarkan oleh Vatikan. Monseigneur Cortesi, seorang pastor di Warsawa, “memaksa” pemerintah Polandia untuk menyerahkan segalanya kepada Hitler: Dantzig, “daerah koridor”, yaitu daerah dimana minoritas Jerman hidup. Deklarasi tahun 1772 yang ditulis oleh Paus Clement XIV untuk Ratu Austria, Marie Therese, dikeluarkan lagi tahun 1939 dengan tanpa perubahan sedikitpun: “Invasi dan terbagi-baginya Polandia dilakukan bukan untuk alasan-alasan politik; tetapi hal tersebut berhubungan dengan kepentingan agama, dan untuk keperluan spiritual Gereja, bahwa kekuasaan Vienna seharusnya melebarkan dominasinya atas Polandia seluas-luasnya”.

CEKOSLOWAKIA

Di Cekoslawakia, tindakan Vatikan lebih baik lagi. Vatikan telah menyiapkan seseorang untuk dijadikan pemimpin Ceko, yang merupakan negara satelit bagi Jerman-Nazi. Ancaman ala Hitler menggema di seluruh Republik Cekoslowakia dan aroma perang terasa di udara.

Nazi pertama-tama mencaplok Sudetenland, dengan bantuan Partai Sosial Kristen dan Republik tersebut pun terbagi. Tetapi Hitler berkeinginan untuk mencaplok Slovakia dan berkuasa penuh atasnya. Hal ini tidak terlalu sulit bagi Hitler karena sebagian besar pemimpin politik Slovakia adalah pengikut Katolik, termasuk seorang pastor bernama Hlinka (seorang Jesuit). Kita mengetahui, berdasarkan Kanon (hukum dalam lembaga Katolik), tidak seorang pastor pun bisa mempunyai kedudukan baik di publik maupun di dunia politik tanpa persetujuan Tahta Suci. Jadi karena persetujuan Tahta Sucilah, seorang pastor dapat mempunyai kedudukan dalam parlemen Cekoslowakia.

Tanggal 15 Maret 1939, Hitler mencaplok seluruh Bohemia dan Moravia, dan membuat Republik Slovakia “dalam perlindungannya”. Pada pucuk pimpinan, dia menempatkan Moseigneur Tiso (Jesuit) yang berambisi untuk menyatukan paham Katolik dan Nazi, karena keduanya mempunyai persamaan dan keduanya bergandengan tangan untuk merubah dunia.

Regim Tiso di Slovakia berusaha menekan pengaruh seperlima populasi Protestan ke tingkat paling minimum, dan bahkan berusaha untuk melenyapkannya…dengan mengirim para anggota berpengaruh Gereja Protestan ke kamp-kamp konsentrasi. Terhadap orang-orang Yahudi, Tiso melakukan hal yang sama. Tahun 1941, rombongan pertama orang Yahudi dari Slovakia dan Silesia tiba di Auschwitz. Siapapun yang tidak bisa bekerja dengan baik di kirim ke kamar gas. Kesaksian ini ditulis oleh Lord Russell dari Liverpool, konselor hukum pada pengadilan penjahat perang.

Setelah perang dunia II berakhir, Tiso diserahkan oleh Amerika Serikat kepada Cekoslowakia, dan diputuskan hukuman mati untuknya tahun 1946. Dia dihukum gantung.

YUGOSLAVIA

Di Kroasia, muncul organisasi teroris bernama Oustachis yang dipimpin oleh Pavelitch, seorang yang haus darah dan juga dijuluki “Pembunuh yang menggunakan nama Tuhan”. Oustachis terkenal di kalangan masyarakat Perancis karena telah membunuh Raja Alexander I dari Yugoslavia dan menteri luar negeri Perancis Louis Barthou, 1934.

Oustachis disewa oleh Mussolini untuk membantu Italia di pantai Adriatik. Tahun 1941, Hitler dan Mussolini menginvasi dan memecah Yugoslavia. Pavelitch dijadikan pemimpin “Negara Merdeka Kroasia”. Tanggal 18 Mei 1941, Paus Pius XII menerima Pavelitch beserta rekan-rekannya. Pada hari itu juga, pembunuhan besarbesaran terhadap kaum Ortodoks Kroasia mencapai puncaknya, mereka dipaksa menganut paham Katolik. Para Oustachis juga memburu kaum minoritas Serbia. Andrija Artukovic adalah perancang utama dari pembunuhan besar-besaran tersebut.

Sewaktu Artukovic hendak diekstradisi dari USA ke Yugoslavia, dia dibela oleh seorang R.P. Jesuit Lackovic yang bermukim di USA juga, sekretaris Monseigneur Stepinac, uskup agung Zagreb. Lackovic menyatakan bahwa antara 1941 sampai 1945, dia selalu bertemu dengan Artukovixc di kantornya. Dia selalu meminta nasehat Stepinac terhadap semua tindakan yang diambilnya. Kenyataannya Monseigneur Stepinac adalah anggota parlemen Oustachis dan selalu mengenakan atribut-atribut organisasinya itu.

Tanggal 22 Juli 1941, Pius XII menerima kunjungan 100 anggota “Croation Security Police” (Polisi Keamanan Kroasia) pimpinan Eugen Kvaternik-Dido, kepala polisi Zagreb. Grup ini adalah bagian dari S.S. Kroasia yang bertugas menjemput dan menyiksa para terhukum di kamp-kamp konsentrasi. Kvaternik-Dido adalah seorang penjahat besar, sehingga membuat ibunya bunuh diri karena putus asa melihat anaknya.

Mile Budak, seorang Katolik dan menteri agama Kroasia, mencanangkan sebuah program. 300.000 orang Serbia dan Yahudi dideportasi dan lebih dari 500.000 dibunuh. Hal ini memaksa 240.00 umat Ortodoks menjadi penganut Katolik…tetapi kembali menjadi Ortodoks begitu mereka bebas.

Sewaktu pihak sekutu menang dalam perang dunia II, Pavelitch dan 4000 Oustachisnya melarikan diri ke Austria, kemudian ke Italia. Mereka meninggalkan sebagian harta benda mereka berupa fil, foto, perhiasan, logam emas, gelang, cincin, dsb., yang diambil dari orang-orang miskin yang mereka bunuh. Sebagai pelarian, mereka memanfaatkan “Pontifical Commission for Assistance” yang melindungi penjahat perang. Roma menyembunyikan mereka di Austria dan Italia, dan memberikan paspor palsu sehingga mereka bisa bepergian ke negara-negara yang “bersahabat”, dimana mereka bisa menikmati hasil rampasannya. Pavelitch sendiri terungkap keberadaannya di Argentina tahun 1957. Pavelitch meninggalkan Argentina menuju Paraguay, kemudian ke Spanyol dimana dia meninggal tanggal 28 Desember 1959 di sebuah rumah sakit Jerman di Madrid.

Monseigneur Stepinac diajukan ke pengadilan Zagreb tahun 1946. Hukuman yang harus dijalani adalah kerja paksa, tetapi nyatanya dia dikembalikan ke desa asalnya. Semasa kekardinalannya, di Gornji Karlovac (bagian dari wilayah keuskupannya) dari 460.000 orang Ortodoks yang hidup disana, 50.000 bersembunyi di pegunungan, 50.000 dikirim ke Serbia, 40.000 pindah ke paham Katolik karena teror dan 280.000 dibunuh.

Kolusi antara Vatikan dan Oustachis adalah nyata. Bahkan Tahta suci sendiri memaksa Monseigneur Stepinac untuk berkolaborasi dengan Oustachis guna membunuh penganut Ortodoks dan Yahudi. Tanggal 10 Februari 1960, Alois Stepinac meninggal di desa asalnya, Karlovice.

BAB IV: GERAKAN JESUIT DI PERANCIS

SEBELUM DAN SELAMA PERANG DUNIA II 1939-1945

Aksi Jesuit dimulai ketika Mussolini berkuasa dan berakhir tahun 1940 karena jatuhnya pertahanan nasional. FNC (Federation Nationale Catholique = Federasi Nasional Katolik) pun didirikan dan dipimpin oleh Jenderal de Castelnau, seorang figur militer hebat berusia 78 tahun!

FNC, pasukan bersenjata Katolik, difokuskan tugasnya kepada “Sacred heart of Jesus” (Hati Kudus Yesus), sebuah acara ibadah yang diatur oleh Jesuit. Basilikanya terletak di Lembah Montmartre, darimana Ignatius of Loyola dan rekanrekannya berikrar untuk menaklukkan dunia. Sang jenderal, seperti yang dituliskan dalam buku mengenai FNC, menegaskan bahwa FNC terbeban untuk mendirikan kembali kekuasaan Tahta Suci (baca = Jesuit) di seluruh Perancis. Pengajaran Gereja Katolik yang melarang kebebasan beribadah, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan dalam berpikir, kebebasan pers, semua pengajaran tersebut harus ditegakkan kembali. Itulah tujuan utama FNC.

Di Perancis, kejadian yang sama berulang. Para pastor sibuk membentuk kolaborasi. Franz von Papen menungkapkannya: “Pertemuan pertama kami terjadi tahun 1927, dimana seorang delegasi Jerman berkunjung menemui Paus untuk menghadiri “Social Week of the Catholic Institute”, dibawah pimpinan Monseigneur Baudrillart. Pertemuan ini juga menandai awal pertukaran kunjungan antara orang-orang penting dari Perancis dan Jerman”.

Tanggal 14 Juni 1940, bendera swastika berkibar di seluruh perancis. Goebbels, kepala propaganda Hitler, sudah memprediksi hal tersebut tanggal 14 Maret 1940 dan serangan jerman pun terjadi tanggal 10 Mei 1940. Hal ini tidak mengherankan kerena para pengkhianat sudah terpilih jauh sebelumnya. Seorang agen rahasia 654J.56, yang bekerja untuk Jerman S.S., mengirimkan surat rahasia kepada Himmler, tanggal 5 Juli 1939, bahwa “Perancis dibawah kendali kita. Segalanya sudah siap untuk “J Day” dan semua agen sudah pada posisinya. Dalam beberapa minggu, sistem militer dan kekuatan polisi akan runtuh.”

Pembayaran untuk para pengkhianat Perancis (Luchaire, Bucard, Deat, Doriot dan Abel Bonnard) dilakukan oleh Jerman SR dan diberikan karena pekerjaan mereka yang efektif. Doriot sebelumnya seorang yang sedang menanjak namanya, tetapi karena kebutuhan akan masa depan dan untuk mengamankan posisi transisi diperlukan figur lain, Doriotpun tersingkir. Figur lain itu adalah seorang perwira militer yang dihormati dan sanggup “mendandani” kekacauan dan menghadirkannya sebagai “pemulihan nasional.” Dia adalah Petain.

Selama masa pendudukan Perancis, Jerman disanjung oleh Gereja Roma Katolik. Pierre laval, pendukung paus mengatakan,”Saya berharap Jerman memperoleh kemenangan. Perang ini adalah perang agama.” Pastor Coughlin (Jesuit) berkomentar : “Perang Jerman adalah perang untuk Kekristenan.” Kardinal Baudrillart, rektor Institut Katolik di Paris, mengatakan: “Perang Hitler adalah untuk mempertahankan kebudayaan Eropa.”

Setelah sekutu menang, Perancis meminta Vatikan untuk menarik pulang 30 uskup dan uskup agung. Ternyata akhirnya, hanya 3 saja yang ditarik. La Croix, salah satu orang berbahaya dari Jesuit, diadili di Paris tahun 1944. Judge Raoult memutuskan kasus dibatalkan. Ternyata diketahui bahwa M. de Menthon, menteri kehakiman, telah menolong La Croix.

Pers Katolik sepenuhnya dikontrol oleh Jesuit. Mereka menyuarakan kepentingan kepausan dan segala hal yang berhubungan dengan La Croix, para kardinal, para uskup agung serta Hitler adalah masa lalu dan dilupakan. Sejarah diselewengkan. Kolaborasi antara paus dan Jerman tahun 1940-1944 dipalsukan, para Jesuit dijadikan pahlawan, Hal ini dilakukan agar generasi yang akan datang menaruh hormat kepada “para pahlawan Gereja Roma dan Tanah Air.”

BAB V: GESTAPO DAN SERIKAT YESUS

Hitler adalah seorang yang setia kepada Vatikan. Dia berjanji untuk “mencekik” para anti-paus. Mereka (Pius XI, Pius XII, Hitler) mengirimkan kaum liberal dan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Nasib bangsa Yahudi sudah ditentukan (oleh Hitler): dibunuh atau disuruh bekerja sampai kehabisan tenaga kemudian dibinasakan.

Pada hari kematian Hitler, 3 Mei 1945, surat kabar “Reforme” mempublikasikan pernyataan Franco (yang sebenarnya merupakan suara Tahta Suci) bahwa “Adolf Hitler, anak kesayangan Gereja Katolik, meninggal mempertahankan Kekristenan. Dia seorang martir, Tuhan memberi Hitler mahkota kemenangan”. Hitler pantas menerima penghormatan dari Gereja Roma karena dia sangat seta ia melayaninya.

Hitler mengakui bahwa dia belajar banyak dari Ordo Jesuit. Organisasi S.S. dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip Ordo Jesuit, baik itu berdasarkan peraturanperaturannya, maupun latihan spiritual yang “diresepkan” oleh Ignatius de Loyola; sedangkan struktur perintah/birokrasi meniru susunan hirarki Gereja Katolik. Salah satu prinsip yang dijunjung tinggi pihak kepausan adalah pembunuhan yang terorganisir, yaitu inkuisisi. Apakah inkuisisi hanya terjadi di masa lalu? Tidak! Apakah bisa terjadi pada masa sekarang? Ya. Mengapa? Karena prinsip yang dijunjung tinggi itu tidak berubah!

Hitler, Joseph Goebbel, Himmler dan sebagian besar anggota Nazi adalah Katolik. Hitler sendiri menganggap Himmler, pimpinan Gestapo, sebagai Ignatius de Loyola-nya Nazi. Hitler mempunyai alasan untuk menyebutnya demikian. Kurt Heinrich Himmler, Reichsfuhrer (Jenderal) S.S., Gestapo dan pasukan polisi jerman adalah seorang yang paling banyak diisi oleh paham Kekatolikan dibandingkan dengan anggota-anggota Katolik lainnya dalam grup Hitler. Ayahnya seorang direktur sekolah Katolik di Munich, guru pribadi Pangeran Ruprecht dari Bavaria. Saudara lakilakinya seorang biarawan Benedictine. Pamannya memegang posisi penting di Mahkamah Bavaria.

Tetapi apakah karena kemampuannya dia bisa memperoleh posisi sebagai kepala Gestapo? Seorang jeniuskah dia sehingga diperbandingkan dengan Ignatius de Loyola? Bagaimana halnya dengan Hitler? Seorang pemimpin sejatikah dia? Master sejati untuk Jerman, seorang negarawan jenius yang akan memutarbalikkan dunia? Hitler sendiri mengakui bahwa dia hanyalah sebuah klarion (alat musik sejenis trumpet). M. Francois-Poncet, duber Perancis untuk Berlin, mengkonfirmasikan bahwa Hitler hanya melakukan sedikit kerja, tidak gemar membaca dan membiarkan kaki tangannya bekerja sendiri-sendiri. Ternyata para pahlawan Nazi adalah orang-orang yang tidak mempunyai intelektual dan karakter. Hanya satu yang “normal” Franz von Papen, dialah yang mengerjakan semuanya. Hitler hanyalah legenda yang sengaja diciptakan, sama seperti Mussolini.

Di Italia dan Jerman, ada beberapa negarawan dan pemimpin sejati, dibandingkan dengan Hitler dan Mussolini. Tetapi mereka terlalu pandai sehingga Vatikan, khususnya von Ledochowski (seorang paus hitam), tidak dapat mengendalikan mereka. Awalnya rencana Ledochowski adalah membentuk federasi negara-negara Katolik di Eropa Tengah dan Timur, dimana Bavaria dan Austria (pemerintahannya dipimpin oleh Jesuit Seipel) akan mempunyai peranan yang menonjol. Bavaria harus dipisahkan dari Republik Jerman Weimar. Tetapi kesempatan untuk mewujudkan federasi ini semakin kecil, sewaktu Monseigneur pacelli menyadari kelemahan Republik Jerman, yaitu kurangnya dukungan. Rencana pun dimodifikasi.

“Hegemoni Prussia Protestan harus dihindari dan pada saat jerman mendominasi Eropa –untuk mencegah federalisme orang Jerman- seorang “Reich” harus dibentuk kembali dimana Katoliklah yang menjadi tuannya”.

BAB VI: KAMP KEMATIAN dan PERANG Anti-SEMIT

Para Katolik adalah para tuannya Nazi Jerman yang melaksanakan prinsipprinsip kepausan. Gereja Roma merasa berhak untuk memusnahkan siapa saja, baik dengan cara lambat atau cepat, yang menghalanginya, yaitu orang-orang liberal dan kaum Yahudi, dikirim ke Auschwitz, Dochau, Belsen, Buchenwald dan kamp-kamp kematian lainnya.

Vatikan sendiri cuci tangan terhadap kekejaman ini, seperti yang dinyatakan oleh Pius XII kepada Dr. Nerin F. Gun, jurnalis Swiss yang mempertanyakan mengapa paus tidak menolong orang-orang malang tersebut: “Kami mengetahui bahwa, karena asalan politik, adanya pembunuhan kejam terjadi di Jerman, tetapi kami tidak pernah diinformasikan seperti apa penindasan Nazi yang tidak berperikemanusiaan itu”. Tahta Suci diketahui terlibat dalam pendeportasian 528 misionaris Protestan dari penjara, oleh orang-orang Jepang, di Kepulauan Pasifik dan diasingkan ke kamp-kamp konsentrasi di Filipina. Cukup banyak bukti yang menyatakan keterlibatan Gereja Roma dalam hal-hal yang dilakukan Oustachi, Nazi, pemusnahan kaum Ortodoks dan bangsa Yahudi. Gereja Roma tidak pernah mengakui bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama.

Dalam sebuah surat kepada “SS Haupsturmfuhrer” Danneker tanggal 21 Juli 1942, diperintahkan untuk mendeportasi anak-anak Yahudia yang diambil dari ibunya ke Auschwitz. Selama lebih dari 5 tahun, Nazi adalah sumber kebiadaban, ketidaksenonohan, hujatan dan kejahatan. Nazi membunuh 6 juta orang Yahudi, dimana 1,8 juta diantaranya adalah anak-anak. Gerakan anti-Semit di USA juga didalangi oleh Jesuit karena sejalan dengan doktrin Gereja Roma. Tokoh utama dalam gerakan tersebut adalah Pastor Caughlin (seorang Jesuit, tentunya). Dia sangat terkenal dengan paham anti-Semitnya, dan melalui siaran radionya, dia berhasil mengumpulkan pendengar sebanyak 20 juta lebih.

BAB VII: JESUIT DAN “COLLEQUIM RUSSICUM”

Salah satu penyebab Vatikan memulai perang dunia II, dengan memaksa Kaisar Austria –Francis Joseph- untuk “menghukum Serbia”, adalah untuk menyerang Gereja ortodoks, lawan Vatikan yang paling dibenci dan hal itu sudah berlangsung berabad-abad. Sasaran Vatikan sebenarnya, selain Serbia, adalah Rusia yang merupakan pelindung kaum Ortodoks di daerah Balkan dan Eropa Timur. Roma yakin kemenangan bisa diraih dengan menciptakan bencana raksasa. Paus Pius X yakin pasukan Perancis dan Rusia tidak akan menang atas Jerman.

Ternyata semua perhitungan meleset. Perang dunia I, yang memporakporandakan Utara Perancis dan menyebabkan jutaan meninggal, gagal memenuhi ambisi Roma. Austria dan Hungaria terpecah dua, sehingga melemahkan pengaruh Vatikan di Eropa. Pukulan berikutnya adalah Revolusi Rusia yang membuat Rusia terlepas dari kontrol Vatikan. Kekalahan total! Tetapi Gereja Roma tidak berputus asa. Usaha baru dilakukan tetapi dikombinasikan dengan ambisi-ambisi Pan-Jerman : Perang Dunia II, dimana 25 juta meninggal di kamp konsentrasi, 32 juta serdadu tewas dalam pertempuran dan 29 juta cedera dan cacat. Gereja Roma mengira tujuannya telah tercapai. Vatikan dan Berlin menandatangani pakta yang mengijinkan para misionaris Katolik dari Russicum College (Colleqium Russicum) menguasai daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh Jerman. Katolikisasi Rusia dicanangkan dan Kroasia pun dikenai hal serupa, tetapi dalam skala yang jauh lebih besar. Semuanya diperlukan untuk kedigjayaan Roma!

Yang terjadi ternyata mengecewakan, Hitler terhenti di Moskow dan von Paulus beserta pasukannya terperangkap di Stalingrad pada hari Natal 1942! Pius XII yang tadinya mengeluarkan seruan kepada “negara-negara Kristen” untuk mendukung “Perang Salib Suci Modern” itu, berbalik dengan mengatakan bahwa perang Hitler tersebut bukanlah perang salib yang sebenarnya. Pius XII juga mengeluarkan sanggahan terhadap ucapan Kardinal Baudrillart (“Perang Hitler adalah untuk mempertahankan kebudayadaan Eropa, 30 Juli 1941) bahwa “Gereja Katolik tidak pernah mengidentifikasikan dirinya dengan kebudayaan barat”.

La Coix mengatakan, berdasarkan penampakan Bunda Maria 1917 di Fatima, bahwa “Perawan Fatima telah berjanji untuk menobatkan Rusia (menajdi umat Katolik Roma) jika semua orang Kristen dengan tulus dan bersuka cita melaksanakan perintah hukum Injil”. Janji dari Perawan ini dimeteraikan lagi pada penampakan tahun 1951 di halaman Vatikan, yang hanya diperuntukkan bagi Pius XII saja. Sekalipun ada penampakan tersebut, yang menentukan ternyata bukanlah Perawan Fatima! Inggris memperkuat dirinya untuk menghadapi Nazi, USA ikut ambil bagian dalam peperangan (walaupun Pastor Coughlin, seorang Jesuit, berusaha keras untuk mencegahnya), sekutu mendarat di Afrika Utara dan operasi militer Rusia adalah bencana bagi Nazi. Impian Halke von Ledochowski, Jenderal Jesuit, tidak tercapai. Jesuit mundur teratur. Sang jenderal pun meninggal karena kesehatannya menurun drastis akibat bencana kekalahannya tersebut.

Colleqium Russicum adalah seminari Rusia yang diciptakan oleh Pius XI, bersama dengan “Oriental Pontifical Institute” dan “Roman College”. Ketiganya diatur oleh Serikat Yesus. Aktifitas ketiganya saling terkait dan bervariasi. Contohnya: bersama-sama dengan Fasis Italia dan sisa-sisa Nazi jerman, Jesuit mengorganisir dan mengkoordinir kelompok-kelompok anti Rusia. Tujuan utamanya adalah menumbangkan pemerintahan-pemerintahan Eropa timur. Keuangan disediakan oleh organisasi - organisasi keuskupan yang berkuasa.

Suatu saat saya (penulis, Edmund Paris) bercakap-cakap denga Andrei Ouroussof, seorang Jesuit. Singkatnya: politik Vatikan membutuhkan, baik yang secara sukarela maupun dipaksa, dan Vatikan telah “mencïptakan” berjuta-juta martir dalam dua perang dunia.

BAB VIII: PAUS YOHANES XXIII MENANGGALKAN TOPENG

Gereja Roma selalu berhati-hati dalam melakukan aksinya. “Bonne renommee vaut mieux que ceinture doree”. Reputasi yang tanpa cacat lebih baik daripada sabuk keemasan. Vatikan sangatlah kaya, nafsu politiknya untuk mendomisi selalu dibalut dengan dalih “spiritual (keagamaan)” dan kemanusiaan, memproklamirkan “urbi dan orbi” dengan propaganda yang intens sehingga reputasi pun terjaga baik, emas tetapi mengalir masuk.

Tanggal 7 Januari 1960 di Roma diadakan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) yang mempertemukan para pemimpin negara-negara Timur dan Barat untuk menciptakan perdamaian diantara dua ideologi: komunis dan demokrasi. Tentu saja Vatikan mengambil peranan dalam KTT ini. Di USA, Kardinal Spellman meminta umat Katolik untuk menyambut Khrushchev (seorang pemimpin Soviet), yang menjadi tamu presiden USA, dengan ramah.

Dalam pesan Natalnya, Paus Yohanes XXIII mengharapkan perdamaian tercipta di dunia ini. Sejauh ini Vatikan menampakkan wajah manisnya.

Kegemparan terjadi pada 7 Januari, Kardinal Ottaviani, calon sekretaris Tahta Suci, menyampaikan pidato yang mengagumkan di Basilika “Saint-Marie-Majeure”. Dia menyerang otoritas Soviet dan menggambarkan para pemimpin Rusia sebagai “anti Kristus baru” yang pantas “di deportasi, dipenjara , dibunuh “. Perjalanan ke ruang angkasa hanyalah menghina surga dan menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Ottaviani juga menyerang para politisi dan negarawan Barat yang dianggapnya “tumbuh bodoh karena teror”.

Kata-kata yang dramatis ini tentu tidak membuat kita lupa bahwa Vatikan juga dapat menggunakan kata-kata manis untuk mencapai tujuannya, seperti yang dilakukan Franco di Spanyol dimana orang-orang Protestan dianiaya. Dilihat berdasarkan cara Vatikan memperlakukan para orang sesat (heresi); tidak mengherankan kalau Vatikan secara sistematis menghujat usaha-usaha yang memisahkan istilah antara negara-negara “Kristen” dan ateis. Bagi Vatikan, keduanya sama.

Isu disebarkan bahwa pendirian kardinal Ottaviani bukanlah cerminan dari pemikiran Tahta Suci. Hal ini sebenarnya tidak mungkin. Tidak mungkin Ottaviani mengucapkan kritikan tajam tanpa persetujuan atasannya, Paus sendiri. Paus Yohanes XXIII tentu tidak dapat menyampaikan kritik itu sendiri, tetapi dengan memerintah orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam kepausan untuk mengambil alih tempatnya, dia ingin kerjasama yang dilakukan secara rahasia terpampang jelas ke setiap orang.

Kebetulan, yang lain dan cukup aneh, terjadi pada saat bersamaan sebuah artikel dalam “Osservatorie Romano” mengecam sosialisme karena berlawanan dengan kebenaran Kekristenan. Siapapun yang mempraktekkan politik itu masih mempunyai harapan untuk tidak masuk neraka-tetapi tidak dapat menghindari Api Penyucian.

Segala usaha dilakukan oleh Roma untuk menanamkan pengaruhnya. Contohnya penampakan Perawan Maria di Bukit Fatima tahun 1917, yang menyatakan bahwa Rusia akan bertobat; kebangkitan Hitler walaupun akhirnya kalah, tetapi kekalahan tersebut tidak membuka mata Roma atas ambisinya yang konyol.

Ambisi besar Roma lainnya adalah agar Roma dapat “bebas” di Polandia, Hungaria dan Cekoslowakia. Untuk itu, Vatikan bergabung kepada pasukan Jerman. Vatikan menempatkan Chancellor Konrad Adenauer sebagai pemimpin Federal Jerman, sehingga dia selalu menyuarakan Vatikan. Adenauer, yang dijuluki serigala tua, berusaha untuk mempersenjatai kembali negara tersebut, baik pemuda Jerman maupun penduduknya secara umum. Maka dari itu, posisi-posisi penting dalam pemerintahan Jerman Barat dipegang para mantan pengikut Hitler dan penjahat perang. Semua ini dilakukan sebagai aksi balas dendam bersama-sama dengan Vatikan.

7 Januari 1960 diadakan kebaktian di Sainte-Maire-Majeure beberapa hari sebelum kunjungan Konrad Adenauer ke Roma. Adenauer dan Menteri Luar Negeri, Mr. Von Brentano, diterima dengan ramah oleh Paus Yohanes XXIII. Paus menyampaikan bahwa Tuhan telah memberi peranan kepada rakyat Jerman untuk menjadi pelindung dunia Barat terhadap ancaman dunia Timur.

Sebenarnya Perang Dingin yang langsung sangat penting bagi kekuatan Politik Vatikan, dan keuangannya, sehingga Vatikan tidak ragu-ragu untuk mengulang sudut pandang politik seperti itu, walaupun yang pertama ditolak. Usaha-usaha untuk memulihkan hubungan Barat-Timur selalu dilakukan.

Jesuit akan selalu menggunakan segudang tipuannya untuk menentang perdamaian antara negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan. Untuk meruntuhkan struktur atau organisasi yang kompleks, mereka tidak akan menyisakan perangkap dan kontra perangkap yang mereka miliki. Serikat Yesus akan melaksanakan perang, perang suci, tanpa kekhawatiran terhadap bencana yang ditimbulkan.

0 comments: